FRAKTUR

FRAKTUR

  1. PENGERTIAN

Fraktur
atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan
atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa.

  1. KLASIFIKASI

    1. Menurut
      ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar :

      1. Patah
        tulang terbuka (Compound fraktur)

Dikatakan
terbuka bila tulang yang patah menembus otot dan kulit yang
memungkinkan/potensial untuk terjadi infeksi dimana kuman dari luar
dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah.

Derajat
patah tulang terbuka :

  1. Derajat
    I

Laserasi
< 2 cm, fraktur sederhana, dislokal fragmen minimal.

  1. Derajat
    II

Laserasi
> 2 cm, kontusi otot dan sekitarnya., dislokasi fragmen jelas.

  1. Derajat
    III

Luka
lebar, rusak hebat, atau hilangnya jaringan sekitar.

Fraktur
komunitif, segmental, fragmen tulang ada yang hilang.

      1. Patah
        tulang tertutup (Simple fraktur)

Fraktur
tidak meluas melewati kulit/jaringan kulit tidak robek.

    1. Menurut
      derajat kerusakan tulang :

      1. Patah
        tulang lengkap (Complete fraktur)

Dikatakan
lengkap bila patahan tulang terpisah satu dengan lainnya, atau garis
fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan fragmen
tulang biasanya berubah tempat.

      1. Patah
        tulang tidak lengkap (Incomplete fraktur)

Bila
antara patahan tulang masih terjadi hubungan sebagian. Salah satu
sisi patah yang lainnya biasanya hanya bengkok yang sering disebut
green stick.

    1. Menurut
      garis patah tulang (Deskriptif fraktur)

  1. Fraktur
    transversal

Fraktur
yang arahnya langsung melintas tulang (patah tulang melintang).

  1. Fraktur
    Oblik/miring

Garis
patah membentuk sudut terhadap sumsum tulang.

  1. Fraktur
    Spiral

Garis
fraktur berbentuk spiral diakibatkan karena terpilinnya ekstremitas
fraktur.

  1. Fraktur
    Segmental

2
fraktur yang berdekatan yang mengisolasi segmen sentral dari suplai
darah.

  1. Fraktur
    Kominutif

Garis
patah saling berpotongan dan terjadi di fragmen-fragmen tulang atau
tulang dalam keadaan remuk.

  1. Fraktur
    Kompresi

Terjadi
apabila permukaan tulang terdorong ke arah permukaan lain.

  1. Fraktur
    Patologis

Terjadi
melalui daerah-daerah tulang yang telah melemah akibat infeksi,
tumor, osteoporosis, atau proses patologis lainnya.

  1. Dislokasi

Adalah
berpindahnya ujung tulang patah disebabkan oleh berbagai kekuatan
seperti : cedera otot, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.

  1. PENYEBAB
    FRAKTUR

    1. Trauma
      direk (langsung)

Trauma
langsung menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya
kekerasan/trauma itu misalnya : trauma akibat kecelakaan.

    1. Trauma
      indirek (tidak langsung)

Menyebabkan
patah tulang ti tempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan,
yang patah biasanya bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran
vektor kekerasan.

    1. Patologis

Disebabkan
oleh adanya proses patologis misalnya tumor, infeksi atau
osteoporosis tulang karena disebabkan oleh kekuatan tulang yang
berkurang dan disebut patah tulang patologis.

    1. Kelelahan/stress

Misalnya
pada olahragawan mereka yang baru saja meningkatkan kegiatan fisik
misalnya pada calon tentara. Dimana ini diakibatkan oleh beban lama
atau trauma ringan yang terus menerus yang disebut fraktur kelelahan.

  1. DIAGNOSIS
    PATAH TULANG

    1. Anamnesis

Misalnya
adanya trauma tertentu seperti jatuh, tertumbuk dan berapa kuatnya
trauma tersebut, keluhan nyeri, dsb.

    1. Pemeriksaan
      fisis

Inspeksi
: Terlihat pasien kesakitan, terdapat pembengkakan, perubahan bentuk
berupa bengkok, berputar, pemendekan, dll.

Palpasi : Nyeri
objektif yaitu nyeri yang berupa nyeri tekan.

    1. Pemeriksaan
      gerak persendian : aktif/pasif

    2. Pemeriksaan
      klinis

Untuk
mencari akibat trauma seperti pneumothoraks atau cedera otak serta
komplikasi vaskuler dan neurologis dari patah tulang yang
bersangkutan. Hal ini penting karena komplikasi tersebut perlu
penanganan segera.

    1. Pemeriksaan
      radiologis : Foto rontgen.

  1. PENATALAKSANAAN/PENANGANAN
    PATAH TULANG

Pengelolaan
patah tulang secara umum mengikuti prinsip pengobatan kedokteran pada
umumnya yaitu :

    1. Diagnosis
      tepat

    2. Pengobatan
      yang tepat dan memadai

    3. Bekerjasama
      dengan hukum alam

    4. Memilih
      pengobatan dengan memperhatikan setiap pasien secara individu

Untuk
patah tulangnya sendiri prinsipnya adalah :

  1. Mengembalikan
    bentuk tulang seperti semula (reposisi).

  2. Mempertahankan
    posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang (imobilisasi).

  3. Mobilisasi
    berupa latihan-latihan seluruh sistem gerak untuk mengembalikan
    fungsi anggota badan seperti sebelum patah.

Ada
4 konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu menangani
fraktur (4 R Fraktur) :

  1. Rekognisi
    (Pengenalan)

Riwayat
kecelakaan, parah tidaknya, jenis kekuatan yang berperanan dan
deskriptif tentang kejadian tersebut oleh pasien itu sendiri,
menentukan kemungkinan tulang yang patah yang dialami dan kebutuhan
pemeriksaan spesifik untuk fraktur.

Kelainan
bentuk yang nyata dapat menentukan diskontinuitas integritas rangka
perkiraan diagnosis fraktur pada tempat kejadian dapat dilakukan
sehubungan dengan adanya rasa nyeri dan bengkak lokal, kelainan
bentuk, dan ketidakstabilan.

  1. Reduksi

Reduksi
adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen-fragmen tulang
yang patah sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya.

Fraktur
tertutup pada tulang panjang seringkali ditangani dengan reduksi
tertutup. Sebelum dilakukan reposisi beri dahulu anestesi/narkotika
intravena, sedativ atau anastesi blok syaraf lokal. Ini seringkali
dapat dilaksanakan secara efektif di dalam ruang gawat darurat atau
ruang pembalut gips.

  1. Retensi
    reduksi (mempertahankan reduksi)

      1. Pemasangan
        gips

Tepung
gips terdiri dari garam kapur sulfat berupa bubuk halus berwarna
putih dan mempunyai sifat mudah menarik air (hygroskopis). Bila
diberi air, tepung gips akan membentuk semacam bubur yang beberapa
saat kemudian akan mengeras dengan mengeluarkan panas.

Untuk
fiksasi luar patah tulang dipasang gips spalk atau gips sirkulair.
Perban gips spalk biasanya dipakai pada patah tulang tungkai bawah
karena biasanya akan terjadi oedema. Setelah edema menghilang baru
diganti dengan gips sirkulair.

Biasanya
gips baru dibuka setelah terjadi kalus (bersambung), untuk lengan
memerlukan waktu 4 – 6 minggu sedangkan tungkai 6 – 10 minggu.
Makin muda umur pasien makin cepat penyembuhannya.

      1. Traksi

Traksi
adalah usaha untuk menarik tulang yang patah untuk mempertahankan
keadaan reposisi secara umum traksi didapatkan dengan penempatan
beban berat sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang
fraktur.

Biasanya
lebih disukai traksi rangka dengan dengan baja steril dimasukkan
melalui fragmen distal atau tulang yang lebih distal melalui
pembedahan dibanding dengan traksi kulit.

Keuntungan
pemasangan traksi :

    1. Metode
      nyata yang dapat mempertahankan reduksi.

    2. Traksi
      menjamin bahwa ekstremitas dapat diangkat sehingga mengurangi
      pembengkakan dan meningkatkan penyembuhan jaringan lunak.

    3. Ekstremitas
      yang cedera dapat diamati dengan mudah kemungkinan gangguan
      sirkulasi neurovaskuler.

Kerugian
pemasangan traksi, tergantung dari jenis traksi yang dipasang
misalnya pemasangan traksi kulit dapat menyebabkan banyak komplikasi
mengganggu sirkulasi akibat pemasangan ban perban elastis, alergi
kulit terhadap plester, traksi yang berlebihan akan membuat kulit
rapuh pada orang yang sudah lanjut usia.

      1. Tindakan
        pembedahan

Reposisi
terbuka dilakukan melalui operasi/pembedahan. Metode perawatan ini
disebut fiksasi interna dan reduksi terbuka (ORIF : Open Reduction
Internal Fixation). Insisi dilakukan pada tempat yang terjadi cedera
dan diteruskan sepanjang bidang anatomis menuju tempat yang mengalami
fraktur. Fraktur kemudian direposisi ke kedudukan normal secara
manual. Sesudah reduksi fragmen-fragmen fraktur kemudian
distabilisasi dengan menggunakan peralatan ortopedis yang sesuai
seperti pin, skrup, plat dan paku.

Keuntungan
perawatan fraktur dengan operasi antara lain:

    1. Ketelitian
      reposisi fragmen-fragmen fraktur

    2. Kesempatan
      untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf di sekitarnya.

    3. Stabilitas
      fiksasi yang cukup memadai dapat dicapai.

    4. Perawatan
      di RS yang relatif singkat pada kasus tanpa komplikasi.

    5. Potensi
      untuk mempertahankan fungsi sendi yang mendekati normal serta
      kekuatan otot selama perawatan fraktur.

Kerugian
yang potensial juga dapat terjadi antara lain :

  1. Setiap
    anastesi dan operasi mempunyai resiko komplikasi bahkan kematian
    akibat dari tindakan tersebut.

  2. Penanganan
    operatif memperbesar kemungkinan infeksi dibandingkan pemasangan
    gips atau traksi.

  3. Penggunaan
    stabilisasi logam interna memungkinkan kegagalam alat itu sendiri.

  4. Pembedahan
    itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak, dan struktur yang
    sebelumnya tak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau
    mengalami kerusakan selama tindakan operasi.

  1. Rehabilitasi

Rencana
program rehabilitasi yang paling rasional sudah harus dimulai sejak
permulaan perawatan di rumah sakit dan oleh karena itu bila keadaan
memungkinkan, harus segera dimulai melakukan latihan-latihan untuk
mempertahankan kekuatan anggota tubuh dan mobilisasi.

  1. PROSES
    PENYEMBUHAN TULANG

Proses
penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan
terjadi pada setiap patah tulang. pada permulaan akan terjadi
perdarahan di sekitar fraktur, yang disebabkan oleh terputusnya
pembuluh darah pada tulang dan periost. Fase ini disebut fase
hematom. Hematoma ini akan menjadi medium pertumbuhan sel jaringan
fibrosis dan vaskuler hingga hematom berubah menjadi jaringan
fibrosis dengan kapiler di dalamnya. Jaringan ini yang menyebabkan
fragmen tulang saling menempel. Fase ini disebut fase jaringan
fibrosis dan jaringan yang menempelkan fragmen patahan tulang
tersebut dinamakan kalus fibrosa. Kedalam hematom dan jaringan
fibrosis ini kemudian juga tumbuh sel kondroblast yang membentuk
kondroid yang merupakan bahan dasar tulang rawan. Sedangkan di tempat
yang jauh dari patahan tulang yang vaskularisasinya relatif banyak,
sel ini berubah menjadi osteoblast dan membentuk osteoid yang
merupakan bahan dasar foto rontgen. Pada tahap selanjutnya terjadi
penulangan atau ossifikasi, kesemua ini menyebabkan kalus fibrosa
berubah menjadi kalus tulang. fase ini disebut fase penyatuan klinis.
Selanjutnya terjadi pergantian sel tulang secara berangsur-angsur
oleh sel tulang yang mengatur diri sesuai dengan garis tekanan dan
tarikan yang bekerja pada tulang. akhirnya sel tulang ini mengatur
diri secara lamelar seperti tulang normal, kekuatan kalus ini sama
dengan kekuatan tulang biasa dan fase ini disebut fase konsolidasi.

Jadi
berdasarkan stadium-stadium penyembuhan terdiri dari :

    1. Stadium
      penyatuan : absorbsi energi pada tempat fraktur.

    2. Stadium
      inflamasi : hematoma, nekrosis tepi fraktur, pelepasan sitokin,
      jaringan granulasi dalam celah-celah berlangsung sekitar 2 minggu.

    3. Stadium
      reparatif : kartilago dan tulang berdiferensiasi dari periost atau
      sel-sel parenkim, kartilago mengalami klasifikasi endokondral, dan
      tulang membranosa yang dibentuk oleh osteoblas pada perifer dini
      kalus, secara bertahap mengganti kartilago yang berklasifikasi
      dengan tulang berlangsung selama satu sampai beberapa bulan.

    4. Stadium
      remodelling : tulang yang berongga-rongga berubah menjadi lamelar
      melalui resorpsi dan pembentukan ganda. Tulang cenderung untuk
      mempunyai bentuk aslinya melalui remodelling dibawah pengaruh dari
      stress mekanik berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.

Gangguan
pada proses penyembuhan :

  1. Malunion
    ; adalah suatu keadaan dimana fraktur ternyata sembuh dalam posisi
    yang kurang sesuai, membentuk sudut atau posisinya terkilir.

  2. Delayed
    union : merupakan istilah yang menyatakan proses penyembuhan yang
    terus berlangsung tetapi kecepatannya lebih rendah daripada
    biasanya.

  3. Non
    union : adalah fraktur yang gagal untuk mengalami kemajuan ke arah
    penyembuhan, ini disebabkan karena pergerakan yang berlebihan,
    distraksi yang berlebihan, infeksi dan jaringan lunak terpisah
    secara parah.

Faktor
yang mempengaruhi penyembuhan tulang tergantung dari :

  1. Banyaknya
    tulang yang rusak.

  2. Daerah
    tulang yang patah.

  3. Persediaan
    pembuluh darah/vaskularisasi di sekitar fraktur untuk pembentukan
    kalus.

  4. Faktor
    lain seperti : imobilisasi yang tidak cukup, infeksi, interposisi
    dan gangguan perdarahan setempat

ASUHAN
KEPERAWATAN FRAKTUR

    1. PENGKAJIAN

Data
dasar pengkajian pasien :

    1. Aktivitas
      istirahat

Keterbatasan/kehilangan
fungsi pada bagian yang terkena

Tanda : (mungkin
segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari
pembengkakan jaringan, nyeri).

    1. Sirkulasi

Hipertensi
(kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas)

Tanda : Hipotensi
(kehilangan darah)

Takikardia
(respon stress, hypovolemia)

Penurunan/tidak
ada nadi pada bagian distal yang cedera, pengisian kapiler lambat,
pucat pada bagian yang terkena.

Pembengkakan
jaringan atau massa hematom pada sisi cedera.

    1. Neurosensori

Gejala : Hilang
gerakan/sensasi, spasme otot.

Tanda : Deformitas
lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi, spasme otot,
terlihat kelemahan/ hilang fungsi, agitasi (mungkin berhubungan
dengan nyeri/ansietas atau trauma lain.

    1. Nyeri/kenyamanan

Gejala : Nyeri
berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area
jaringan/kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobilisasi) tidak
ada nyeri akibat kerusakan saraf.

Spasme/kram
otot (setelah imobilisasi).

    1. Keamanan

Tanda : Laserasi
kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan lokal.

Pembengkakan
lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).

    1. Penyuluhan/pembelajaran

Gejala : Lingkungan
cedera.

Memerlukan
bantuan dan transportasi, aktivitas perawatan dini dan tugas
pemeliharaan/perawatan rumah.

    1. PERENCANAAN

    1. Nyeri
      berhubungan dengan spasme otot dan kerusakan sekunder terhadap
      fraktur.

Intervensi
:

      1. Pantau
        vital sign, intensitas nyeri dan tingkat kesadaran

      2. Pertahankan
        tirah baring sampai fraktur berkurang

      3. Bantu
        pasien untuk posisi yang nyaman

      4. Pakai
        kompres es atau kompres panas (jika tidak ada kontraindikasi)

      5. Berikan
        istirahat sampai nyeri hilang

      6. Berikan
        obat analgetik sesuai dengan nyeri yang dirasakan pasien.

Rasionale
:

  1. Untuk
    mengenal indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang
    diharapkan.

  2. Nyeri
    dan spasme otot dikontrol oleh immobilisasi.

  3. Posisi
    tubuh yang nyaman dapat mengurangi penekanan dan mencegah
    ketegangan.

  4. Dingin
    mencegah pembengkakan dan panas melemaskan otot-otot dan pembuluh
    darah berdilatasi untuk meningkatkan sirkulasi.

  5. Istirahat
    menurunkan pengeluaran energi

  6. Analgetik
    dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh klien.

    1. Gangguan
      mobilitas fisik berhubungan dengan traksi atau gips

Intervensi
:

      1. Berikan
        latihan gerak pasif tiap 2 jam.

      2. Anjurkan
        pasien untuk latihan sebanyak mungkin untuk dirinya.

      3. Bila
        pasien sudah dapat berjalan, berikan bantuan yang dibutuhkan.

      4. Berikan
        diet tinggi serat

      5. Jaga
        ekstremitas pada posisi atau postur yang tepat.

Rasional
:

  1. Gerak
    pasif membantu memelihara fleksibilitas sendi dan kesehatan otot.

  2. Melakukan
    perawatan sendiri membantu melatih sendi, otot dan perasaan tidak
    tergantung pada orang lain.

  3. Demineralisasi
    tulang terjadi karena tidak digunakan, yang merupakan predisposisi
    tulang untuk fraktur.

  4. Serat
    meningkatkan sisa yang akan membantu merangsang pengeluaran faeces.

  5. Ketegangan
    otot menurun bila bagian tubuh dipelihara dalam postur yang tepat.

    1. Defisit
      perawatan diri berhubungan dengan pemasangan traksi atau gips pada
      ekstremitas.

Intervensi
:

      1. Bantu
        pasien memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

      2. Dekatkan
        barang-barang yang diperlukan oleh klien.

      3. Berikan
        pujian terhadap prestasi dan kemajuan yang dicapai

      4. Rujuk
        ke bagian terapi, jika terjadi kerusakan yang permanen atau jangka
        waktu yang lama.

Rasional
:

  1. Perawatan
    diri membantu memelihara harga diri dan kembali untuk hidup tanpa
    tergantung pada orang lain (mandiri).

  2. Agar
    pasien mudah menjangkaunya dengan aman.

  3. Untuk
    memotivasi agar mematuhi program rehabilitasi secara kontinu.

  4. Ahli
    terapi dapat membantu pasien belajar bagaimana menyesuaikan
    kebiasaan-kebiasaan hidup dengan keadaan fisik yang terbatas.

    1. Resiko
      tinggi kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan
      sirkulasi sekunder terhadap fraktur.

Intervensi
:

      1. Monitor
        status neurovaskuler dari ekstremitas yang sakit tiap 2 jam
        kemudian tiap 4 jam.

      2. Pertahankan
        ekstremitas yang fraktur pada posisi tinggi dan berikan kompres
        es.

Rasional
:

  1. Untuk
    mendeteksi manifestasi dini dari sindrom kompartemen

  2. Untuk
    mengurangi pembengkakan

    1. Resiko
      tinggi infeksi berhubungan dengan perubahan sirkulasi sekunder
      terhadap fraktur.

Intervensi
:

      1. Observasi
        suhu tiap 4 jam, kondisi luka selama setiap penggantian balutan.

Rasional
:

  1. Untuk
    mendeteksi tanda dini infeksi.

    1. Gangguan
      eliminasi bab berhubungan dengan imobilisasi fisik

Intervensi
:

      1. Pantau
        setiap hari pasase dan konsistensi faeces.

      2. Beri
        obat laksatif bila tidak ada defekasi selama 3 hari.

      3. Beri
        diet tinggi serat (buah-buahan segar, sayur-sayuran).

Rasional
:

      1. Untuk
        mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil
        yang diharapkan.

      2. Laksantif
        dapat membantu meningkatkan pengeluaran faeces.

      3. Serat
        meningkatkan sisa yang akan membantu merangsang pengeluaran
        faeces.

Sumber:

Barbara
Engran, Perawatan Medikal Bedah, Volume III

­­_______,
Perawatan Medikal Bedah, Volume II

E.
Oswari, Bedah dan Perawatannya

Marylinn
E. Doenges, Rencana Asuhan Keperawatanb, Edisi 3

R.
Sjamsuhidayat dan Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah

­­­­_______,
Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah

Sylvia
Anderson Price, Patofisiologi, Edisi 2 bagian 2

Iklan

TRAUMA MEDULA SPINALIS

TRAUMA MEDULA SPINALIS

PENDAHULUAN

Trauma medulla spinalis dapat terjadi bersamaan dengan trauma pada tulang belakang yaitu terjadinya fraktur pada tuylang belakang pada tulang belakang ,ligamentum longitudainalis posterior dan duramater bisa robek,bahkan dapat menusuk kekanalis vertebralis serta arteri dan vena-vena yang mengalirkan darah kemedula spinalis dapat ikut terputus .

Cedera sumsum tulang belakang merupakan kelainan yang pada masa kini yang banyak memberikan tantangan karena perubahan dan pola trauma serta kemajuan dibidang penatalaksanaannya.kalau dimasa lalu cedera tersebut lebih banyak disebabkan oleh jatuh dari ketionggian seperti pohon kelapa , pada masa kini penyebabnya lebih beraneka ragam seperti lkecelakaan lalu lintas,jatuh dari tempat ketinggian dan kecelakaan olah raga.

Pada masa lalu kematian penderita dengan cedera sumsum tulang belakang terutama disebabkan oleh terjadinya penyulit berupa infeksi saluran kemih gagalginjal,pneumoni/decubitus.

II. PENYEBAB DAN BENTUK

Cedera sumsum tulang belakang terjadi akibat patah tulang belakang dan terbanyak mengenai daerah servikal dan lumbal.cedera terjadi akibat hiperfleksi, hiperekstensi, kompressi, atau rotasi tulang belakang.didaerah torakal tidak banyak terjadi karena terlindung dengan struktur toraks.

Fraktur dapat berupa patah tulang sederhana, kompressi, kominutif, dan dislokasi, sedangkan kerusakan pada sumsum tulanmg belakang dapat beruypa memar, contusio, kerusakan melintang, laserasi dengan atau tanpa gangguan peredaran darah, atau perdarahan.

Kelainan sekunder pada sumsum belakang dapat doisebabkan hipoksemia dana iskemia.iskamia disebabkan hipotensi, oedema, atau kompressi.

Perlu disadar bahwa kerusakan pada sumsum belakang merupakan kerusakan yang permanen karena tidak akan terjadi regenerasi dari jaringan saraf. Pada fase awal setelah trauma tidak dapat dipastikan apakah gangguan fungsi disebabkan oleh kerusakan sebenarnya dari jaringan saraf atau disebabkan oleh tekanan, memar, atau oedema.

III. PATOFISIOLOGI

Tulang belakang yang mengalami gangguan trauma dapat menyebabkan kerusakan pada medulla spinalis, tetapi lesi traumatic pada medulla spinalis tidak selalu terjadi karena fraktur dan dislokasi. Efek trauma yang tidak langsung bersangkutan tetapi dapat menimbulkan lesi pada medulla spinalis disebut “whiplash”/trauma indirek. Whiplash adalah gerakan dorsapleksi dan anterofleksi berlebihan dari tulang belakang secara cepat dan mendadak.

Trauma whiplash terjadi pada tulang belakang bagian servikalis bawah maupun torakalis bawah misal; pada waktu duduk dikendaraan yang sedang cepat berjalan kemudian berhenti secara mendadak. Atau pada waktu terjun dari jarak tinggi menyelam dan masuk air yang dapat mengakibatkan paraplegia.

Trauma tidak langsung dari tulang belakang berupa hiperekstensi, hiperfleksi, tekanan vertical (terutama pada T.12sampai L.2), rotasi. Kerusakan yang dialami medulla spinalis dapat bersifat sementara atau menetap.akibat trauma terhadap tulang belakang, medula spinalis dapat tidak berfungsi untuk sementara (komosio medulla spinalis), tetapi dapat sembuh kembali dalam beberapa hari. Gejala yang ditimbulkan adalah berupa oedema, perdarahan peri vaskuler dan infark disekitar pembuluh darah. Pada kerusakan medulla spinalis yang menetap, secara makroskopis kelainannya dapat terlihat dan terjadi lesi, contusio, laserasio dan pembengkakan daerah tertentu di medulla spinalis.

Laserasi medulla spinalis merupakan lesi berat akibat trauma tulang belakang secara langsung karena tertutup atau peluru yang dapat mematahkan /menggeserkan ruas tulang belakang (fraktur dan dislokasi).lesi transversa medulla spinalis tergantung pada segmen yang terkena (segmen transversa, hemitransversa, kuadran transversa).hematomielia adalah perdarahan dlam medulla spinalis yang berbentuk lonjong dan bertempat disubstansia grisea.trauma ini bersifat “whiplash “ yaitu jatuh dari jarak tinggi dengan sifat badan berdiri, jatuh terduduk, terdampar eksplosi atau fraktur dislokasio.kompresi medulla spinalis terjadi karena dislokasi, medulla spinalis dapat terjepit oleh penyempitan kanalis vertebralis.

Suatu segmen medulla spinalis dapat tertekan oleh hematoma ekstra meduler traumatic dan dapat juga tertekan oleh kepingan tulang yang patah yang terselip diantara duramater dan kolumna vertebralis.gejala yang didapat sama dengan sindroma kompresi medulla spinalis akibat tumor, kista dan abses didalam kanalis vertebralis.

Akibat hiperekstensi dislokasio, fraktur dan whislap radiks saraf spinalis dapat tertarik dan mengalami jejas/reksis.pada trauma whislap, radiks colmna 5-7 dapat mengalami hal demikian, dan gejala yang terjadi adalah nyeri radikuler spontan yang bersifat hiperpatia, gambaran tersbut disebut hematorasis atau neuralgia radikularis traumatik yang reversible.jika radiks terputus akibat trauma tulang belakang, maka gejala defisit sensorik dan motorik yang terlihat adalah radikuler dengan terputusnya arteri radikuler terutama radiks T.8 atau T.9 yang akan menimbulkan defisit sensorik motorik pada dermatoma dan miotoma yang bersangkutan dan sindroma sistema aaanastomosis anterial anterior spinal.

IV. GAMBARAN KLINIK

Gambaran klinik tergantung pada lokasi dan besarnya kerusakan yang terjadi.kerusakan meningitis;lintang memberikan gambaran berupa hilangnya fungsi motorik maupun sensorik kaudal dari tempat kerusakan disertai shock spinal.shock spinal terjadi pada kerusakan mendadak sumsum tulang belakang karena hilangnya rangsang yang berasal dari pusat .peristiwa ini umumnya berlangsung selama 1-6 minggu, kadang lebih lama.tandanya adalah kelumpuhan flasid, anastesia, refleksi, hilangnya fersfirasi, gangguan fungsi rectum dan kandung kemih, triafismus, bradikardia dan hipotensi.setelah shock spinal pulih kembali, akan terdapat hiperrefleksi terlihat pula pada tanda gangguan fungsi otonom, berupa kulit kering karena tidak berkeringat dan hipotensi ortostatik serta gangguan fungsi kandung kemih dan gangguan defekasi.

Sindrom sumsum belakang bagian depan menunjukkan kelumpuhan otot lurik dibawah tempat kerusakan disertai hilangnya rasa nyeri dan suhu pada kedua sisinya, sedangkan rasa raba dan posisi tidak terganggu.

Cedera sumsum belakang sentral jarang ditemukan.keadaan ini pada umumnnya terjadi akibat cedera didaerah servikal dan disebabkan oleh hiperekstensi mendadak sehinnga sumsum belakang terdesak dari dorsal oleh ligamentum flavum yang terlipat.cedera tersebut dapat terjadi pada orang yang memikul barang berat diatas kepala, kemudian terjadi gangguan keseimbangan yang mendadak sehingga beban jatuh dsan tulang belakang sekonyong-konyong dihiper ekstensi.gambaran klinik berupa tetraparese parsial.gangguan pada ekstremitas atas lebih ringan daripada ekstremitas atas sedangkan daerah perianal tidak terganggu.

Kerusaka tulang belakang setinggi vertebra lumbal 1&2 mengakibatkan anaestesia perianal, gangguan fungsi defekasi, miksi, impotensi serta hilangnya refleks anal dan refleks bulbokafernosa.

V. PERAWATAN DAN PENGOBATAN

Perhatian utama pada penderita cedera tulang belakang ditujukan pada usaha mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah atau cedera sekunder.untuk maksud tersebut dilakukan immobilisasi ditempat kejadian dengan memanfaatkan alas yang keras.pengangkutan penderita tidak dibenarkan tanpa menggunakan tandu atau sarana papun yang beralas keras.selalu harus diperhatikan jalan nafas dan sirkulasi.bila dicurigai cedera didaerah servikal harus diusahakan agar kep[ala tidak menunduk dan tetap ditengah dengan menggunakan bantal kecil untuk menyanngga leher pada saat pengangkutan.

Perawatan penderita memegang peranan penting untuk mencegah timbulnya penyakit.perawatn ditujukan pada pencegahan :

  • Kulit : agar tidak timbul dekubitus karena daerah yang anaestesi.
  • Anggota gerak : agar tiadak timbul kontraktur.

  • Traktus urinarius : menjamin pengeluaran air kemih.
  • Traktus digestivus : menjamin kelancaran bab.
  • Traktus respiratorius : apabila yang terkena daerah servikal sehingga terjadi pentaplegi.

KULIT

Perawatan posisi berganti dapat mencegah timbulnya decubitus yaitu dengan cara miring kanan kiri telentang dan telungkup.

ANGGOTA GERAK

Karena kelainan saraf maka timbul pula posisi sendi akibat inbalance kekuatan otot.pencegahan ditujukan terhadap timbulnya kontraktur sendi dengan melakukan fisioterapi, latihan dan pergerakan sendi serta meletakkan anggota dalam posisi netral.

TRAKTUS URINARIUS

Untuk ini perlu apakah ganggua saraf menimbulkan gejala UMN dan LMN terhadap buli-buli, karenanya maka kateterisasi perlu dikerjakan dengan baik , agar tidak menimbulkan infeksi.

TRAKTUS DIGESTIVUS

Menjamin kelancaran defekasi dapat dikerjkaka secara manual .

TRAKTUS RESPIRATORIUS

Apabila lesi cukup tinggi (daerah servikal dimana terdapat pula kelumpuhan pernapasan pentaplegia), maka resusitasi dan kontrol resprasion diperlukan.

Sumber:

  1. Kedaruratan dan Kegawatan Medik III FKUI

  2. Buku Ajar Ilmu Bedah, R. Sjamsuhidajat

  3. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Persyarafan, Pusdiknakes

OSTEOMIELITIS

Pengertian

Infeksi jaringan tulang disebut sebagai osteomielitis, dan dapat timbul akut atau kronik. Bentuk akut dicirikan dengan adanya awitan demam sistemik maupun manifestasi local yang berjalan dengan cepat. Pada anak-anak infeksi tulang seringkali timbul sebagai komplikasi dari infeksi pada tempat-tempat lain seperti infeksi faring (faringitis), telinga (otitis media) dan kulit (impetigo). Bakterinya (Staphylococcus aureus, Streptococcus, Haemophylus influenzae) berpindah melalui aliran darah menuju metafisis tulang didekat lempeng pertumbuhan dimana darah mengalir ke dalam sinusoid. Akibat perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan, maka tempat peradangan yang terbatas ini akan terasa nyeri dan nyeri tekan.
Perlu sekali mendiagnosis osteomielitis ini sedini mungkin, terutama pada anak-anak, sehingga pengobatan dengan antibiotika dapat dimulai, dan perawatan pembedahan yang sesuai dapat dilakukan dengan pencegahan penyebaran infeksi yang masih terlokalisasi dan untuk mencegah jangan sampai seluruh tulang mengalami kerusakan yang dapat menimbulkan kelumpuhan. Diagnosis yang salah pada anak-anak yang menderita osteomilitis dapat mengakibatkan keterlambatan dalam memberikan pengobatan yang memadai. Pada orang dewasa, osteomilitis juga dapat awali oleh bakteri dalam aliran darah, namun biasanya akibat kontaminasi jaringan saat cedera atau operasi.
Osteomielitis kronik adalah akibat dari osteomielitis akut yang tidak ditangani dengan baik. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, osteomielitis sangan resisten terhadap pengobatan dengan antibiotika. Menurut teori, hal ini disebabkan oleh karena sifat korteks tulang yang tidak memiliki pembuluh darah. Tidak cukup banyak antibodi yang dapat mencapai daerah yang terinfeksi tersebut. Infeksi tulang sangat sulit untuk ditangani, bahkan tindakan drainase dan debridement, serta pemberian antibiotika yang tepat masih tidak cukup untuk menghilangkan penyakit.

Dari uraian di atas maka dapat diklasifikasikan dua macam osteomielitis yaitu:
Osteomielitis Primer
Penyebarannya secara hematogen dimana mikroorganisme berasal dari focus ditempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah.
Osteomielitis Sekunder (Osteomielitis Perkontinuitatum)
Terjadi akibat penyebaran kuman dari sekitarnya akibat dari bisul, luka fraktur dan sebagainya.
Etiologi
1. Staphylococcus aureus hemolitukus (koagulasi positif) sebanyak 90% dan jarang oleh streptococcus hemolitikus.
2. Haemophylus influenzae (50%) pada anak-anak dibawah umur 4 tahun. Organisme yang lain seperti : Bakteri colli, Salmonella thyposa dan sebagainya.
Tanda dan Gejala
Gambaran klinis osteomielitis tergantung dari stadium patogenesis dari penyakit, dapat berkembang secara progresif atau cepat. Pada keadaan ini mungkin ditemukan adanya infeksi bacterial pada kulit dan saluran napas bagian atas. Gejala lain dapat berupa nyeri yang konstan pada daerah infeksi dan terdapat gangguan fungsi anggota gerak yang bersangkutan.
Pemeriksaan penunjang
3. Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 L gr/dl disertai peningkatan laju endapan darah.
4. Pemeriksaan titer antibodi – anti staphylococcus
Pemeriksaan kultur darah untuk menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti dengan uji sensitivitas.
5. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri Salmonella.
6. Pemeriksaan Biopsi tulang.
7. Pemeriksaan ultra sound
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan adanya efusi pada sendi.
8. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan photo polos dalam 10 hari pertama tidak ditemukan kelainan radiologik, setelah dua minggu akan terlihat berupa refraksi tulang yang bersifat difus.
Prinsip penatalaksanaan
9. Istirahat dan pemberian analgetik untuk menghilangkan nyeri
10. Pemberian cairan intra vena dan kalau perlu tranfusi darah
11. Istirahat local dengan bidai atau traksi
12. Pemberian antibiotika secepatnya sesuai penyebab
13. Drainase bedah
Proses keperawatan
14. Pengkajian
a. Riwayat keperawatan
Dalam hal ini perawat menanyakan faktor-faktor resiko sehubungan dengan osteomielitis
Hal-hal yang dikaji meliputi umur, pernah tidaknya trauma, luka terbuka, tindakan operasi khususnya operasi tulang, dan terapi radiasi.
Faktor-faktor tersebut adalah sumber potensial terjadinya infeksi.
b. Pemeriksaan fisik
Area sekitar tulang yang terinfeksi menjadi bengkak dan terasa lembek bila dipalpasi. Bisa juga terdapat eritema atau kemerahan dan panas. Efek sistemik menunjukkan adanya demam biasanya diatas 380, takhikardi, irritable, lemah bengkak, nyeri, maupun eritema.
c. Riwayat psikososial
Pasien seringkali merasa ketakutan, khawatir infeksinya tidak dapat sembuh, takut diamputasi. Biasanya pasien dirawat lama di rumah sakit sehingga perawat perlu mengfkaji perubahan-perubahan kehidupan khususnya hubungannya dengan keluarga, pekerjaan atau sekolah.
d. Pemeriksaan diagnostik
Hasil laboratorium menunjukan adanya leukositosis dan laju endap darah meningkat. 50% pasien yang mengalami infeksi hematogen secara dini adanya osteomielitis maka dilakukan scanning tulang. Selain itu dapat pula dengan biopsi tulang atau MRI.
15. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan.
b. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri, alat imobilisasi dan keterbatasan menahan beban berat badan.
c. Resiko terhadap perluasan infeksi berhubungan dengan pembentukan abses tulang.
d. Resiko cedera berhubungan dengan rapuhnya tulang, kekuatantulng yang berkurang.
e. Kurang pengetahuan tentang regimen pengobatan.
16. Perencanaan dan implementasi
Sasaran utama mencakup peredaan nyeri, memperbaiki mobilitas fisik dalam batasan terapeutik, kontrol dan penghilang infeksi, serta pengetahuan tentang regimen pengobatan.