HIDROSEPHALUS

HIDROSEPHALUS

Iklan

MENINGITIS VIRUS

ASKEP MENINGITIS

REAKSI HOSPITALISASI

REAKSI HOSPITALISASI

Reaksi tersebut bersifat individual dan sangat tergantung pada usia perkembangan anak,pengalaman sebelumnya terhadap sakit,sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan koping yang dimilikinya,pada umumnya,reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan,kehilangan,
perlukaan tubuh,dan rasa nyeri.

# Reaksi anak pada hospitalisasi :
1. Masa bayi(0-1 th)
Dampak perpisahan
Pembentukan rasa P.D dan kasih sayang
Usia anak > 6 bln terjadi stanger anxiety /cemas
– Menangis keras
– Pergerakan tubuh yang banyak
– Ekspresi wajah yang tak menyenangkan
2.Masa todler (2-3 th)
Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan .Disini respon perilaku anak dengan tahapnya.
> Tahap protes menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain
> Putus asa menangis berkurang,anak tak aktif,kurang menunjukkan minat bermain, sedih, apatis
> Pengingkaran/ denial

– Mulai menerima perpisahan
– Membina hubungan secara dangkal
– Anak mulai menyukai lingkungannya

3. Masa prasekolah ( 3 sampai 6 tahun )
– Menolak makan
– Sering bertanya
– Menangis perlahan
– Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan

Perawatan di rumah sakit :
– Kehilangan kontrol
– Pembatasan aktivitas

Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman.
Sehingga ada perasaan malu, takut sehingga
menimbulkan reaksi agresif, marah, berontak,tidak mau
bekerja sama dengan perawat.
4.Masa sekolah 6 sampai 12 tahun

Perawatan di rumah sakit memaksakan
meninggalkan lingkungan yang dicintai , klg, klp sosial sehingga menimbulkan
kecemasan

Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dlm klg, kehilangan klp sosial,perasaan takut mati,kelemahan fisik

Reaksi nyeri bisa digambarkan dgn verbal dan non verbal
5.Masa remaja (12 sampai 18 tahun )
Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh
kelompok sebayanya
Saat MRS cemas karena perpisahan tersebut
Pembatasan aktifitas kehilangan kontrol
Reaksi yang muncul :
> Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan
> Tidak kooperatif dengan petugas
Perasaan sakit akibat perlukaan menimbulkan
respon :
– bertanya-tanya
– menarik diri
– menolak kehadiran orang lain

# Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi
& Perasaan yang muncul dalam hospitalisasi:
Takut dan cemas,perasaan sedih dan frustasi:

Kehilangan anak yang dicintainya:
– Prosedur yang menyakitkan
– Informasi buruk tentang diagnosa medis
– Perawatan yang tidak direncanakan
– Pengalaman perawatan sebelumnya
&Perasaan sedih:
Kondisi terminal perilaku isolasi /tidak mau didekati orang lain

&Perasaan frustasi:Kondisi yang tidak mengalami perubahan Perilaku tidak kooperatif,putus asa,menolak tindakan,menginginkan P.P
&Reaksi saudara kandung terhadap perawatan anak di RS: Marah,cemburu,benci,rasa bersalah

INTEVENSI PERAWATAN DALAM MENGATASI DAMPAK HOSPITALISASI
Fokus intervensi keperawatan adalah
– meminimalkan stressor
– memaksimalkan manfaat hospitalisasi memberikan dukungan psikologis pada anggota keluarga
– mempersiapkan anak sebelum masuk rumah sakit

# Upaya meminimalkan stresor atau penyebab stress
Dapat dilakukan dengan cara :
– Mencegah atau mengurangi dampak perpisahan
– Mencegah perasaan kehilangan kontrol
– Mengurangi / meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri

#Upaya mencegah / meminimalkan dampak perpisahan
1. Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak
2. Modifikasi ruang perawatan
3. Mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah
– Surat menyurat, bertemu teman sekolah

# Mencegah perasaan kehilangan kontrol:

– Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif.
– Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan
– Buat jadwal untuk prosedur terapi,latihan,bermain
– Memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam perencanaan kegiatan

# Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri
> Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri
> Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak
> Menghadirkan orang tua bila memungkinkan
> Tunjukkan sikap empati
> Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui cerita, gambar. Perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka

# Memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak
> Membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk belajar .
> Memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak.
> Meningkatkan kemampuan kontrol diri.
> Memberi kesempatan untuk sosialisasi.
> Memberi support kepada anggota keluarga.

# Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit
> Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak.
> Mengorientasikan situasi rumah sakit.
Pada hari pertama lakukan tindakan :
– Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya
– Kenalkan pada pasien yang lain.
– Berikan identitas pada anak.
– Jelaskan aturan rumah sakit.
– laksanakan pengkajian .
– Lakukan pemeriksaan fisik.

# Pengertian bermain
> Cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadari
> Kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan sendiri untuk memperoleh kesenangan.

# Bermain merupakan kegiatan
– Menyenangkan / dinikmati
– Fisik.
– Intelektual.
– Emosi.
– Sosial.
– Untuk belajar.
– Perkembangan mental.
– Bermain dan bekerja

# Tujuan bemain di rumah sakit
> Untuk dapat melanjutkan tumbuh kembang yang normal selama di rawat
> Untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dan fantasinya melalui permainan

# Prinsip bermain di rumah sakit
– Tidak membutuhkan banyak energi
– Waktunya singkat.
– Mudah dilakukan
– Aman
– Kelompok umur.
– Tidak bertentangan dengan terapi.
– Melibatkan keluarga.

# Fungsi bermain
– Aktifitas sensori motorik
– Perkembangan kognitif
– Sosialisasi
– Kreatifitas
– Perkembangan moral therapeutik
– Komunikasi.

# Klasifikasi bermain
I. Isi permainan
1. Sosial affective play
– Belajar memberi respon terhadap lingkungan

* Orang tua berbicara/memanjakan —- anak senang,tersenyum,mengeluarkan suara,dll
2.Sense of pleasure play
————Anak memperoleh kesenangan dari suatu obyek disekitarnya
—-Bermain air/pasir
3. Skill play
——–>Anak memperoleh keterampilan tertentu
– Mengendarai sepeda,memindahkan balon,dll
4. Dramatic play/tole play
Anak berfantasi menjalankan peran tertentu
–>Berperan sebagai: Perawat,dokter,ayah,ibu,dll

# Karakteristik Sosial
1.Solitary play
Dilakukan oleh balita ( todler)
Bermain dalam kelompok 1 thn merupakan asyik dengan permainannya sendiri yang berlainan
– Dilakukan oleh balita atau pre school
– Bermain dalam kelompok, permainan sejenis,tak ada interaksi,tak tergantung
– Bermain dalam kelompok,aktivitas sama,tetapi belum terorganisasi dengan
baik
– Belum ada pembagian tugas, bermain sesuai dengan keinginannya
– Bermain dalam kelompok,aktivitas sama,tetapi belum terorganisasi dengan baik
– Belum ada pembagian tugas, bermain sesuai dengan keinginannya
– School age/ adolescant
——>Permainan terorganisasi terencana,ada aturan-aturan tertentu

# Faktor-faktor yang mempengaruhi bermain
1. Tahap perkembangan anak
2. Status kesehatan
3. Jenis kelamin
4. Alat permain

ATRESIA ANI

Istilah digunakan untuk menggambarkan keadaan saluran anorectal yang abnormal
a.Etiologi
1.Timbul pada fase perkembangan embrional dari anus, rektum bagian bawah, traktus urogenital minggu ke 8 kehidupan embriotik
2.Penyebab tidak diketahui
3.Insiden + 1 : 4000 – 5000
4.Secara tertutup diasosiakan dengan devidasi kongenital lainnya seperti : penyakit jantung, atresia esofagus, spinal malformasi, hidronefrosis, BBLR.
b.Tipe
1.Transelvator ( anus imperforata rendah )
Perempuan 50 % dengan tipe ini, laki laki 90 %
2.Supralevator ( anus imperforata tinggi )
Kantong ( pounch ) rektum lebih ke atas dari pubocogsigeal
Perempuan 50 % laki laki 10 %
Berdasarkan tinggi rendahnya dalam hubungan terhadap otot levator ini dibagi dua jenis :
a.Stenosis, merupakan penyempitan anus dan rectal
b.Membranous, otot levator ani terbentuk tetapi anus tidak
Aknesis ada dua macam :
1 ) Distensi rendah, colon melekat pada levator ani < 1,5 Cm
2 ) Distensi tinggi, colon menempel pada levator ani lebih dari 1,5 Cm
c.Manifestasi klinik
1.Tidak ada anus yang terbuka
2.Termometer oleh jari kecil tidak dapat masuk ke dalam rectum
3.Tidak ada meconium
4.Tidak ada vistula; urine kehijauan
5.Distensi abdomen
6.Anus berwarna merah
7.Muntah muntah setelah 24 – 48 jam pertama
8.Pada abyi perempuan biasanya disertai vistula recta vagina, jarang disertai vistula recta ana
9.Pada bayi laki laki sering disertai vistula recta urinari; dalam urin ada meconium
d.Evaluasi diagnosis
1.Pemeriksaan visual
a.Adanya vistula perianal
b.Meconium keluar dari vagina atau meconium terdapat dalam urin
2.Pemeriksaan secara umum
3.Pemeriksaan urine untuk melihat adanya mekonium
4.Pemeriksaan RO / X Ray
a.Pada abdomen tegak; tidak ada udaranya
b.Pada sisi wangesten dan rice X ray ( kepala dibawah,kaki diatas ) akan terlihat bayangan udara terhenti di usus setelah bayi berusia 24 jam
5.USG
6.Pemeriksaan neurologi
e.Penanganan
Tindakan medis :
1.Perempuan rendah
a.Decomoseri usus dengan irigasi kateter
b.Dilatasi vistula 8 – 12 jam kemudian
2.Laki laki rendah
a.Rectal cutback anoplasty
b.Lokal dilatasi vistula
3.Perempuan tinggi
Colostomi untuk dekompresi
4.Laki laki tinggi
a.Colostomi
b.Renair dilakukan bila bayi lebih satu tahun dengan BB 6,75 – 9 Kg
f.Manajemen keperawatan
1.Tindakan perawatan sebelum operasi
a.Bantu dalam mempertahankan kondisi untuk klien sebelum operasi :
1.Makan biasanya diberikan, catatan setiap ada muntah, warna jumlah
2.NGT dipasangkan, ukuran dedistensi abdomen
3.Monitor cairan parenteral
b.Obsern
2.Tindakan perawatan post operasi
a.Beri perawatan post operasi dengan baik, observasi kemungkinan adanya komplikasi
b.Memberikan perawatan anoplasty perineal yang baik, mencegah infeksi dari suture linu, yang tercepat penyembuhan
1.Jangan meletakkan apapun pada rectum
2.Biarkan perineum terbuka
3.Rubah posisi kiri kanan
4.Posisi panggul ditegalkan jika akan melakukan pembersihan atau perawatan
c.Melakukan perawatan colostomy dengan baik
1.Cegah exoriasi dan iritasi
2.observasi dan catat ukuran, frekwensi, karekteristik feces
d.Mempertahankan nutrisi yang adekuat untuk mencegah dehidrasi ketidakseimbangan elektrolit
1.Oral fediny biasanya diberikan beberapa jam post anoplasti
2.diberikan setelah peristaltik usus
3.NGT pada awal post operasi digunakan
4.Monitor cairan parenteral
e.Health Education
1.Orang tua diberi penjelasan bagaimana melakukan perawatan colostomi
2.Bantu orang tua klien untuk dapat mengerti situasi anaknya bila tambah usia / besar
f.Ketidakmampuan mengontrol feces
g.Perlu toilet training

IMUNISASI

Apa itu Imunisasi ?

Imunisasi adalah suatu usaha untuk memberikan kekebalan kepada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu.

 

Tujuan pemberian imunisasi

  1. Mencegah penyakit infeksi tertentu

  2. Apabila terjadi penyakit tidak akan terlalu parah dan dapat mencegah terjadinya gejala yang dapat menimbulkan kecacatan / kematian.

KAPAN pemberian Imunisasi ?

Semua anak yang berumur 0 – 12 bulan harus mendapat imunisasi.

  • Umur 0 – 1 Bln : BCG, Polio, Hepatitis B1

  • Umur 2 Bln : DPT 1, Polio 2, Hepatitis B2

  • Umur 3 Bln : DPT 2, dan Polio 3

  • Umur 4 Bln : DPT3 dan Polio 4

  • Umur 9 Bln : Campak, Hepatitis B3.

Macam-macam Vaksin

  1. Vaksin BCG

Imunisasi BCG tujuannya untuk memberikan kekebalan aktif kepada bayi dan balita terhadap penyakit TBC Paru Paru.

2. Vaksin DPT ( Dipteri, Pertusis,

Tetanus )

Imunisasi DPT tujuannya untuk memberikan kekebalan aktif yang bersamaan terhadap penyakit Dipteri, Pertusis dan Tetanus.

3. Vaksin Polio

Imunisasi Polio tujuannya untuk memberikan kekebalan kepada bayi dan balita terhadap penyakit poliomielitis atau kelumpuhan.

4. Vaksin Hepatitis B

Imunisasi Hepatits B tujuannya untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit Hepatitis B atau penyakit kuning.

 

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian Imunisasi pada bayi/balita.

 

1. Imunisasi diberikan pada bayi/balita yang sehat.

2. Pada bayi/balita yang sakit tidak boleh diberikan seperti :

  1. Sakit keras

  2. Dalam masa tunas/ perkembangansuatu penyakit.

  3. Kekurangan/penurunan daya tahan tubuh.


 

Proses terjadinya reaksi pada tubuh bayi/anak setelah Imunisasi yaitu terjadinya reaksi lokal, biasanya terlihat pada tempat penyuntikan misalnya terjadi pembengkakan yang kadang-kadang disertai demam, agak sakit. Terhadap reaksi ini ibu tidak perlu panik sebab panas akan sembuh dan itu berarti kekebalan sudah dimiliki oleh bayi /balita .

 

 

Tempat memperoleh Imunisasi

  1. Posyandu Terdekat.

  2. Puskesmas Keliling

  3. Puskesmas Pembantu (Pustu)

  4. Puskesmas Kecamatan

  5. Rumah Sakit.

 

 

 

KEK

1.Pengertian
Kekurangan energi protein adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh karena tubuh kekurangan zat protein dan kelori dalam makanan sehari-hari (Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit).
a.Kekurangan energi protein diklasifikasikan :
1)Kekurangan energi protein ringan.
2)Kekurangan energi protein berat.
b.Kekurangan energi protein berat dibagi menjadi :
1)Marasmus (kurang energi)
Penyebab umum :
a)Kegagalan menyusui anak, ibu meninggal, anak diterlantarkan atau tidak dapat menyusui.
b)Therapi dengan puasa karena penyakit, oleh karena itu tidak boleh puasa lebih dari 24 jam.
c)Tidak dimulainya pemberian makanan tambahan.
2)Kwashiorkor.
Penyebabnya :
a)Kemiskinan.
b)Tidak mengetahui pentingnya pemberian makanan tambahan pada anak.
c)Pemikiran yang salah (tabu).
d)Macam-macam infeksi : diare, cacingan, anoreksia.
e)Khusus :
(1)Ibu kekurangan ASI.
(2)Ibu meninggal.
(3)Ibu hamil lagi.
f)Penghentian ASI secara mendadak.
g)Penitipan anak/bayi pada orang lain.
3)Marasmus kwashiorkor.
KEP berat dapat dengan mudah dikenal berdasarkan gejala-gejala kliniknya. Sedangkan untuk penggolongan KEP ringan dan sedang serta membedakannya dengan KEP berat digunakan klasifikasi antropometri.
Penggolongan KEP menurut Jelliffe (1959)
Kategori
BB/u (% baku)
Normal (KEP 0)
Ringan (KEP I)
Sedang (KEP II)
Berat (KEP III)
80 – 90
70 – 80
60 – 70
< 60

2.Etiologi kekurangan energi protein
Menurut Nelson dalam Ilmu Kesehatan Anak (Nelson : Text Book of Pediatries) edisi 12 bagian 1 Richard E. Behrman M. D Victor C., Vaughan, III M. D alih bahasa Drs. Med, Rodja Sirour halaman 29). Penyebab kekurangan energi protein :
a.Sebagai akibat dari pemasukan bahan makanan yang tidak mencukupi.
b.Sebagai akibat dari penyerapan bahan makanan yang tidak memadai.
c.Kebiasaan yang buruk.
d.Kecenderungan yang salah dalam memilih bahan makanan.
e.Faktor emosional yang membatasi.
f.Kelainan metabolisme tertentu.
g.Keadaan lingkungan ikut pula berperan.
3.Tanda dan gejala
Menurut Buku Kesehatan Masyarakat, jilid I, tanda-tanda KEP sangat bervariasi mulai dari KEP ringan, sedang dan berat.
a.KEP ringan :
1)Anak kelihatan kurus, bila ditimbang berat badannya pada KMS berada pada pita kuning bawah.
b.KEP sedang, berat :
1)Berat badan anak di KMS di bawah garis merah. Tanda-tanda yang menyertai :
a)Pucat karena anemi.
b)Mata tampak besar dan dalam.
c)Ubun-ubun besar dan cekung.
d)Otot atropi (mengecil).
e)Ujung tangan dan kaki kanan terasa dingin dan tempat sianosis (kebiru-biruan).
f)Perut buncit atau cekung.
g)Rambut tipis.
h)Kulit kusam, kering dan bersisik.
i)Pembesaran hati.
j)Faeces encer.
4.Patofisiologi
a.Marasmus
Yang menyolok pada marasmus ialah pertumbuhan yang kurang atau terhenti disertai atropi otot dan menghilangnya, lunak di bawah kulit. Pada mulanya kelainan demikian merupakan proses fisiologis untuk kelangsungan hidup jaringan tubuh memerlukan energi, namun tidak dapat dipenuhi oleh makanan yang dikomsumsi sehingga harus didapatkan dari tubuh sendiri dan cadangan protein digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut. Pengahancuran jaringan pada defesiensi kalori tidak saja membantu memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga untuk memungkinkan sintetis glukosa dan metabolit esensial lainnya seperti asam amino untuk komponen hemostatik.
Oleh karena itu pada marasmus berat kadang-kadang masih ditemukan asam amino yang normal, sehingga hati masih dapat membentuk albumin.
b.Kwashiokor
Pada kwashiokor, yang klasik, gangguan metabolit dan perubahan sel menyebabkan edema dan perlemahan hati, kelainan ini merupakan gejala yang mencolok. Kekurangan protein dalam diet akan menimbulkan kekurangan berbagai asam amino esensial yang dibutuhkan untuk sintetis karena dalam diet terdapat cukup karbohidrat maka produksi insulin akan meningkat dan sebagian asam amino dalam serum yang merupakan hasil yang sudah dikurangi tersebut disalurkan ke otot.
Berkurangnya asam amino dalam serum merupakan penyebab kurangnya pembentukan albumin oleh hepar sehingga kemudian timbul edema. Perlemahan hati terjadi karena gangguan pembentukan lipoprotein beta sehingga transport lemak dari hati ke depot lemak juga terganggu dan terjadi akumulasi lemak dalam hepar.
5.Penanganan KEP
a.Untuk KEP berat dapat dirujuk ke rumah sakit.
1)Penanganan selama di rumah sakit antara lain :
a)Pengobatan ditetik : tinggi energi dan tinggi protein.
b)Energi : 160 – 200 cal/kg BB/hari.
c)Protein : 3 – 4 gr potein kualitas baik/kg BB/hari.
d)Nutrien dan lainnya (vit. A, Vit. B, kompliks dan mineal).
e)Pengobatan terhadap infeksi.
f)Tindakan-tindakan umum lainnya untuk hipotermi.
2)Kelainan kulit dan sebagainya :
a)Tindakan-tindakan umum lainnya untuk hipotermi kelainan kulit dan sebagainya.
b)Pentingnya pendidikan gizi/kesehaan/imunisasi untuk ibu, keluarga setelah anak dipulangkan.
b.KEP ringan dapat dirawat di rumah dengan pemberian diet tinggi energi tinggi protein (TETP) yaitu diet yang meliputi :
1)Tinggi energi (nasi).
2)Tinggi protein :
a)Hewani : ikan, daging, telur.
b)Nabati : kacang-kacangan, tahu, tempe.
3)Cukup mineral dan vitamin (sayuran, buah-buahan).
4)Mudah dicerna.
Dalam pemberian TETP pola makan sesuai dengan umur :
a.Bila umur anak kurang dari 2 tahun ASI tetap diberikan.
b.Bila umur telah lebih dari 4 bulan makanan pendamping tetat diberikan.
c.Bila berat anak sudah sama dengan balita usia 10 -12 bulan, mulai diberikan makanan keluarga yang baik (kebutuhan bahan makanan, telur ikan, abon, daging, lauk-pauk dan sayuran.
6.Pencegahan KEP
Pencegahan KEP dapat dilakukan dengan cara :
a.Memberikan makanan gizi seimbang dengan jumlah sesuai kebutuhan.
b.Pemberian makanan yang sering untuk menghabiskan porsi yang dibutuhkan.
c.Penimbangan secara teratur ke fasilitas pelayanan kesehatan seperti : posyandu/pustu/PKM
d.Kalau sakit segera bawa ke fasilitas kesehatan.
e.Kalau sakit segera bawa ke fasilitas kesehatan.
f.Keluarga harus memberikan perhatian kepada pertumbuhan dan perkembangan anak.
7.Akibat/Komplikasi
a.Akibat dari kekurangan energi protein adalah balita akan mengalami gangguan pertumbuhan fisik. Sehingga mudah terserang penyakit.
b.Perkembangan kecerdasan/kepintaran terhambat.

TUMBUH KEMBANG ANAK (3 – 5 TAHUN)

Apa itu tumbuh kembang anak ????
Tumbuh Kembang anak adalah proses yang berkesinambungan atau berlangsung terus menerus sejak anak masih dalam kandungan hingga dewasa yang sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.

Apa manfaat kita mengetahui tumbuh kembang anak ?
Dengan kita mengetahui tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya kita dapat memantau dan mendeteksi jika terdapat kelainan atau keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak agar dapat ditangani secara dini melalui stimulasi tumbuh kembang.

Stimulasi tumbuh kembang adalah kegiatan untuk merangsang kemampuan dan tumbuh kembang anak yang dilakukan oleh ibu dan keluarga untuk membantu anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya.

Hal-hal yang diperhatikan dalam pemberian STIMULASI tumbuh kembang anak yaitu :
Mengajar/melatih anak dalam berbagai kegiatan seperti : bermain, berlari, menari, menulis, menggambar, makan/minum sendiri, membantu orang tua, menghitung dan membaca
Pemberian stimulasi dilaksanakan secara bertahap, berkelanjutan dan terus menerus
Menggunakan benda atau barang/alat yang ada disekitar anak dan tidak berbahaya bagi anak
Jangan memaksa apabila anak tidak mau melakukan kegiatan stimulasi demikian pula bila anak sudah bosan
Beri pujian setiap anak berhasil melakukan kegiatan stimulasi yang sesuai dengan tingkat umurnya
Stimulasi dilakukan dengan penuh kasih sayang dan dalam suasana yang menyenangkan

Pemantauan Perkembangan Anak Usia 3–4 Tahun
Pada usia 4 tahun anak sudah bisa :
Berjalan-jalan sendiri mengunjungi tetangga
Berjalan pada jari kaki (berjinjit)
Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri
Menggambar garis silang
Membuat gambar lingkaran
Menggambar orang hanya kepala dan badan
Mengenal sedikitnya satu warna
Menyebut namanya, jenis kelamin dan umurnya
Mematuhi peraturan permainan sederhana

Jika ada yang belum dapat dikerjakan anak, maka yang ibu perlu lakukan adalah memberi stimulasi lebih sering

Stimulasi dini yang bisa dilakukan dirumah :
Beri kesempatan agar anak dapat melakukan hal yang diperkirakan mampu dia kerjakan, misalnya : melompat dengan satu kaki
Latih anak cara memotong/ menggunting gambar-gambar. Mulai dengan gambar besar
Latih anak mengancingkan kancing baju
Latih anak dalam sopan santun, misalnya berterima kasih, mencium tangan dan sebagainya

Pemantauan Perkembangan Anak Usia 4–5 Tahun
Pada usia 5 tahun anak sudah bisa :
Melompat dengan satu kaki dan menari
Menggambar orang terdiri dari kepala, lengan, badan
Menggambar segi empat dan segi tiga
Bicara dengan baik/pandai bicara
Dapat menghitung jari-jarinya
Dapat menyebut hari-hari dalam seminggu
Mengenal minimal 4 warna
Membedakan besar dan kecil
Mendengar dan mengulang hal-hal penting dalam cerita
Mencuci tangan sendiri

Stimulasi dini yang dapat dilakukan dirumah untuk anak usia 4-5 tahun :
☺ Beri kesempatan agar anak dapat melakukan hal yang diperkirakan mampu dia kerjakan, misalnya : melompat tali, main engklek, dsb
☺ Melatih anak melengkapi gambar misalnya : menggambar baju pada gambar orang atau menggambar pohon, bunga pada gambar rumah, dsb
☺ Jawablah pertanyaan anak dengan benar, jangan membohongi atau menunda jawabannya
☺ Ajak anak dalam aktivitas keluarga seperti berbelanja ke pasar, memasak, membetulkan mainan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk anak usia 3-5 tahun yakni :
Ø Ukur LIKA sekurang-kurangnya 1 kali setiap tahun
Ø Timbang berat badan setiap bulan
Ø Minta kapsul vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus
Ø Teruskan mengawasi dan membimbing anak dalam memelihara kesehatan gigi
Ø Hindari : kebiasaan buruk (mengisap jempol), makan permen, coklat
Ø Teruskan pemberian makanan keluarga, makanan selingan bergizi dan buah-buhan segar

Alat permainan yang dapat membantu mengoptimalkan perkembangan anak usia 3-5 tahun yaitu :
§ Berbagai benda dari sekitar rumah seperti piring, gelas, sendok plastik,
§ Buku bergambar, majalah anak-anak
§ Alat gambar dan tulis menulis
§ Kertas, gunting, air
§ Alat permainan yang bisa dipakai bersama seperti congklak, kotak pasir, bola, tali, dsb

Mari kita tingkatkan kualitas sumber daya manusia bangsa kita dengan memantau pertumbuhan dan perkembangan anak-anak kita