JIWA YANG MULIA

Ketahuilah bahwa barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Karunia ini diberikan bagi jiwa yang mulian, yang tidak rela dengan kehinaan, tidak mau menjual yang berharga dengan yang murah sebagaimana terjadi atas orang-orang yang lemah dan terlena. Tidak pula dikuasai oleh kemasan indah yang membungkus berbagai keburukan.

Sebagaimana digambarkan oleh sebagian orang Arab dahulu tatkala melihat seorang wanita yang mengenakan burqa’
Bila Allah memberkahi busana
Tidaklah Allah memberkati burqa’
Memperlihatkan mata yang indah
Tersingkap pemandangan yang sangat buruk
Ada lagi yang mengatakan,
Janganlah terpedaya oleh pandanganmu akan cadar
Bisa jadi penyakit kronis bersemayam di dalamnya.

Jiwa yang mulia tidak akan rela dengan kehinaan. Allah telah mencela suatu kaum yang menukar suatu makanan dengan makanan yang lebih rendah mutunya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti sesuatu yang baik?” (QS Al-Baqarah: 61)

Al-Ashma’i berkata, “Ada seorang laki-laki Baduwi yang berduaan dengan seorang wanita lalu timbul keinginan untuk berbuat nista dengannya. Ketika hampir saja terlaksana, tiba-tiba laki-laki tersebut menjauh dan berkata, “Sungguh seseorang menukar jannah yang seluas langit dan bumi dengan satu fatr (seluas antara ujung jempol dengan ujung telunjuk saat terbuka) sesuatu di antara kedua kakimu yang secuil ini.

Abu Asma’ berkata, “Ada seorang lelaki berada di tempat yang dinaungi lebatnya pepohonan lalu ia berkata, “Sekiranya aku berbuat maksiat di sini, siapa yang bisa melihatku?” Kemudian ia mendengar suara yang keluar di antara pepohonan:

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kami lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS Al-Mulk: 14)

Ibrahim menceritakan dari Al-Junaid bahwasanya ada seseorang yang merayu seorang wanita, kemudian wanita tersebut berkata, “Engkau telah mendengar Al-Qur’an dan hadits, tentunya engkau lebih mengetahui.” Lelaki tersebut berkata, “Tutuplah pintunya.” Wanita itupun menutup pintu. Ketika lelaki itu mulai mendekat padanya, wanita tersebut berkata, “Tinggal satu pintu lagi yang belum tertutup.” Sang lelaki bertanya, “Pintu yang mana?” Maka wanita itu menjawab, “Pintu antara dirimu dengan Allah.” Akhirnya lelaki itupun mengurungkan niatnya.

Suatu ketika Ziyad, budak ibnu Abbas radhiallahu anhu, duduk-duduk bersama sebagian saudaranya. Beliau berkata, “Wahai Abdullah!” Ia menjawab, “Berkatalah sesukamu?” Ia bertanya, “Adakah selain jannah atau neraka?” Aku menjawab, “Ya” Ia bertanya lagi, “Adakah tempat di antara keduanya yang dihuni manusia?” Aku jawab, “Demi Allah, tidak ada.” Kemudian ia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya jiwaku adalah jiwa yang tidak kuat menahan siksa neraka. Dan bersabar untuk menahan dari maksiat kepada Allah hari ini adalah lebih baik daripada bersabar untuk dibelenggu di neraka.”

Abul Abbas An-Nasyi berkata:
Jika seseorang menjaga diri dari syahwatnya
Demi keselamatan hari-hari yang akan sirna
Bagaimana ia enggan menjaganya
Demi keselamatan hari yang tersisa dan tak akan sirna

Di antara salaf berkata: “Barangsiapa memiliki penasihat dari hatinya, niscaya Allah akan menambah kemuliaan baginya dan tunduk untuk taat kepada-Nya lebih dekat darinya daripada berbangga tatkala bermaksiat kepada-Nya.

Wahb bin Munabih berkata, “Istri Al-Aziz berkata kepada Nabi Yusuf Alaihis Salam, “Masuklah bersamaku ke dalam kelambu.” Yusuf berkata, “Sesungguhnya kelambu tidak dapat menutupiku dari Rabbku.”

 

Written by MT Aminudin

 

 

 


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: