DIARE

1.Pengertian
Diare adalah keluarnya tinja berbentuk cair sebanyak tiga kai atau lebih dalam dua puluh jam pertama dengan temperatur rectal di atas 38 0C, kolik dan muntah (Soegerng Soegijanto ; 2002).
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali, pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, konsistensi faeces encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja (Ngastiyah, 1999).
Diare adalah kondisi terjadi frekuensi defekasi abnormal (lebih dari 3 x / hari)serta perubahan dalam isi (lebih dari 200 gr / hari) dan konsistensi faeces cair (Brunner & Suddarth, 2002).
Setelah menyimak pengertian di atas maka penulis mengembil kesimpulan “Diare adalah keluarnya tinja berbentuk encer – cair lebih dari 3 kali dalam dua puluh jam pertama dengan atau tanpa lendir dan darah di dalam faeces disertai kolik dan muntah”.
2.Anatomi fisiologi
Saluran gastrointestinal yang berjalan dari mulut melalui esophagus lambung dan usus sampai anus. Esophagus terletak di dimediastinum rongga torakat, anterior terhadap tulang punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung. Selang yang dapat mengempis ini, yang panjangnya kira-kira 25 cm (10 inchi) menjadi sistensi bila makanan melewatinya.
Bagian sisa dari saluran gastrointestinal terletak di dalam rongga peritoneal. Lambung di tempatkan dibagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah tubuh, tepat di bawah diafragma kiri. Lambung adalah suatu kantung yang dapat berdistensi dengan kapasitas kira-kira  1500 ml. Lambung dapat dibagi ke dalam empat bagian anatomis, kardia, fundus, korpus dan pylorus.
Usus halus adalah segmen paling panjang dari saluran gastrointestinal, yang jumlah panjangnya kira-kira dua pertiga dari panjang total saluran. Untuk sekresi dan absorbsi, usus halus di bagi dalan 3 bagian yaitu bagian atas disebut duodenum, bagian tengah disebut yeyunum, bagian bawah disebut ileum. Pertemuan antara usus halus dan usus besar terletak di bagian bawah kanan duodenum. Ini disebut sekum pada pertemuan ini yaitu katup ileosekal. Yang berfungsi untuk mengontrol isi usus ke dalam usus besar, dan mencegah refluks bakteri ke dalam usus halus. Pada tempat ini terdapat apendiks veriformis. Usus besar terdiri dari segmen asenden pada sisi kanan abdomen, segmen transversum yang memanjang dari abdomen atas kanan ke kiri dan segmen desenden pada sisi kiri abdomen. Yang mana fungsinya mengabsorbsi air dan elektrolit yang sudah hampir lengkap pada kolon. Bagian ujung dari usus besar terdiri darii dua bgian. Kolon sigmoid dan rectum kolon sigmoid berfungsi menampung massa faeces yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung. Kolon mengabsorbsi sekitar 600 ml air perhari sedangkan usus halus mengabsorbsi sekitar 8000 ml kapasitas absorbsi usus besar adalah 2000 ml perhari. Bila jumlah ini di lampaui, misalnya adalah karena kiriman yang berlebihan dari ileum maka akan terjadi diare.
Rectum berlanjut pada anus, jalan keluar akan diatur oleh jaringan otot lurit yang membentuk baik sfingter internal dan eksternal.
Gambar : anatomi system saluran pencernaan

3.Etiologi
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor :
a.Faktor infeksi
1)Infeksi internal : infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak meliputi infeksi enternal sebagai berikut :
Infeksi bakteri : Vibron, E. Coli, Salmonella, Shigella, Campylobactu, Yersinia, Aeromonas.
Infeksi virus : Entero virus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus.
Infeksi parasit : Cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris), protozoa (Entamoeba, Histolytica, Trichomonas homonis), jamur (Candida Albicans).
2)Infeksi parenteral ialah infeksi di luar saluran pencernaan seperti : Otitis Media Akut (OMA), tonsillitis / tonsilofaringitis, bronchopaemonia, ensefalitis, keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berunur di bawah 2 tahun.
b.Faktor malabsorbsi
1)Malabsorbsi karbohidrat
2)Malabsorbsi lemak
3)Malabsorbsi protein
c.Faktor makanan makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan
d.Faktor psikkologis : rasa takut dan cemas
4.Insiden
Pada 25 tahun yang lalu sebagian besar belum diketahui, akan tetapi kini telah lebih dari 80 % penyebaran sudah diketahui. Pada saat ini telah dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada bayi dan anak. Penyebab itu dapat digolongkan lagi ke dalam penyakit yang di timbulkan adanya virus, bakteri, dan parasit usus. Penyebab utama oleh virus yang terutama ialah Rotavirus (40 – 60 %) sedangkan virus lainnya virus Norwatik, Astrovirus, Calcivirus, dan virus bulat kecil.
Di seluruh pelosok dunia disebutkan bahwa Rotavirus menyebabkan lebih dari 125 juta episode diare dan menjadi sebab hampir 1 juta kematian setiap tahun pada bayi dan anak-anak.
5.Patofisiologi
Menurut patofisiologinya diare dibedakan atas :
a.Diare sekresi
Biasanya diare dan volume banyak disebabkan oleh peningkatan produksi dan sekresi air serta elektrolit oleh mukosa usus ke dalam lumen usus.
b.Diare osmotik
Terjadi bila air terdorong ke dalam usus oleh tekanan osmotik dari partikel yang tidak dapat diabsorbsi, sehingga reabsorbsi air menjadi lambat.

c.Diare campuran
Disebabkan oleh peningkatan kerja peristaktik dari usus dan kombinasi peningkatan sekresi atau penurunan absorbsi dalam usus.
6.Manifestasi klinis
Frekuensi defekasi meningkat bersama dengan meningkatnya kandungan cairan dalam faeces, pasien mengeluh keram perut, distensi, gerumuh usus (borborigimus), anoreksia dan haus. Mula-mula pasien cengeng, galisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada kemusian timbul diare. Tinja cair mungkin disertai lendir dan darah. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena seringnya defekasi.
Gejala yang berkiatan langsung dalam diare dintaranya adalah dehidrasi dan kelemahan.
Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare. Adapun derajat dehidrasi yaitu :
a.Dehidrasi ringan : BB turun < dari 5 % (rata-rata 4 %)
b.Dehidrasi sedang : BB turun 5 – 10 % (rata-rata 8 %)
c.Dehidrasi berat : BB turun 7 – 10 % (rata-rata 11 %)
Kriteria penentuan derajat dehidrasi menurun Haroen Noerasid (modifikasi)
a.Dehidrasi ringan : rasa haus, oliguri ringan
b.Dehidrasi sedang : rasa haus, oliguri ringan dan keadaan jaringan seperti : turgor kulit turun, ubun-ubun besar, mata cekung.
c.Dehidrasi berat : rasa haus, oliguri ringan, dan keadaan jaringan seperti : torgor kulit turun, ubun-ubun besar cekung, mata cekung, tanda-tanda vital, susunan saraf pusat, somolen, spoor, koma, pulmokardiovaskuler, kussmaul, renjatan.
7.Test diagnostik
Apabila penyebab diare tidak terbukti maka tes diagnnostik berikut harus dilakukan :
a.Hitung darah lengkap
b.Sifat kimia
c.Urinalisis
d.Pemeriksaan faeces rutin serta pemeriksaan faeces untuk organisme infeksius atau parasit
e.Prostosigmoidoskopi
f.Enema kimia
8.Penatalaksanaan medik
Dasar pengobatan diare adalah
a.Pemberian cairan : jenis cairan, cairan peroral, cairan perenteral
1)Cairan peroral
Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan diberikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCl, KCl dan glokusa.

2)Cairan
Jenis caiaran yang dipergunakan sesuai dengan kebutuhan pasien tetapi semuanya itu tergantung tersedianya cairan setempat pada umumnya cairan Ringer Laktat (RL).
b.Pemberian makanan (dietetik)
Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg jenis makanan :
1)Susu (ASI atau susu formula) yang mengandung laktosa rendah misalnya LLM.
2)Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim).
c.Obat-obatan
1)Obat anti sekresi :
a)Aseptor dosis 25 mg / tahun dengan dosis minimum 30 mg
b)Klorpromazin dosis 0,5 – 1 mg / kg / BB / hari.
2)Obat antibiotik diberikan bila perlu saja dan sudah ada penyakit yang jelas.

B.Konsep Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan, mencegah dan memulihkan kesehatan melalui empat tahap proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi yang masing-masing berkesinambungan serta memerlukan kecakapan, keterampilan profesional tenaga keperawatan (Doenges, Marilynn E ; 2000)

1.Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan merupakan dasar proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari empat tahapan yaitu : pengumpulan data, klasifikasi data, analisa data, rumusan diagnosa keperawatan.
a.Pengumpulan data
1)Biodata
Terdiri dari identitas klien meliputi nama panggilan, umur, jenis kelamin, alamat, dan identitas orang tua yaitu nama bapak, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, umur, agama, alamat, nama ibu, pendidikan, pekerjaan, umur, agama, dan alamat.
2)Riwayat kesehatan sekarang
a)Keluhan utama : berak-berak encer lebih dari biasanya
b)Riwayat jkeluhan utama :
Klien dengan diare sedang, biasanya datang berobat dengan riwayat BAB dan lendir atau tidak, tidak mau makan.
3)Riwayat kehamilan dan perasalinan meliputi prenatal, natal dan post natal serta riwayat kesehatan keluarga.
4)Riwayat tumbuh kembang
Terdiri dari berat badan lahir, panjang badan lahir, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan atas, pertumbuhan gigi, usia mulai tumbuh gigi, perkembangan anak (miring tengkurap, duduk, merangkak, berjalan dan berlari)
5)riwayat kesehatan masa lalu meliputi : riwayat penyakit yang pernah diderita, pernah opname / tidak, nutrisi, imunisasi dan riwayat elergi.
6)Pemeriksaan fisik.
Meliputi keadaan umum, TTV, TB, lingkar kepala, lingkar lengan atas, lingkar dada, lingkar perut.
a)Inspeksi : mulai kepala sampai ujung kaki
b)Palpasi : Anak yang dihidrasi akan menujukkan tigor kulit jelek nadi cepat.
c)Perkusi : Anak dehidrasi akan menunjukkan hipertimpani pada perut akibat kembung.
d)Auskultasi : akan menunjukkan bising usus meningkat.
7)Pemeriksaan penunjang
a)Pemeriksaan labolatorium : pemeriksaan darah lengkap
b)Pemeriksaan rontgen : prostosigmoidoskopi
8)Kesehatan sosial
9)Pola emosi orang tua
10)Istirahat tidur
11)Higiene
12)Gizi
13)Eliminasi
14)Kegiatan keagamaan
15)Pengobatan dan perawatan
b.Klasifikasi data
Setelah data dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah pengklasifikasian data yang didapatkan ke dalam data subjektif dan data objektif.
c.Analisa data
Dengan melihat data subjektif dan data objektif dapat menentukan permasalahan yang dihadapi oleh klien dan dengan memperhatikan patofiologi mengenai penyebab dari penyakit diare sampai permasalahnya tersebut.
2.Diagnosa keperawatan
Adapun kemungkinan diagnosa keperawatan pada penderita diare adalah :
a.Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan melalui faeces atau emesis.
b.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kehilangan cairan diare, masukan yang tidak adekuat.
c.Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan mikroorganisme yang menembus gastrointestinal (GI).
d.Kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan iritasi karena diare.
e.Kecemasan berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, lingkungan tidak dikenal prosedur yang menimbulkan stress.
f.Perubahan proses keluarga berhubungan dengan krisis situasi, kurang pengetahuan.
3.Rencana keperawatan
Adapun rencana keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan adalah sebagai berikut :
a.Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan melalui faeces atau emesis.
Tujuan : pasien menunjukkan tanda-tanda dehidrasi adekuat.
Intervensi :
1)Beri larutan rehidrasi oral (LRO). Rasional : untuk rehidrasi dan penggantian kehilangan cairan melalui feses.
2)Berikan dan pantau cairan iv sesuai ketentuan.
3)Berikan agens antimikroba sesuai ketentuan. Rasional : untuk mengobati patogen khusus yang menyebabkan kehilangan cairan yang berlebihan.
4)Setelah rehidrasi, berikat diet regular pada anak sesuai toleransi. Rasinaol : penelitian menunjukkan pemberian ulang diet normal secara dini bersifat menguntungkan untuk menurunkan jumlah defekasi dan penurunan berat badan.
5)Ganti LRO dengan cairan rendah natrium seperti air, ASI, formula bebas laktosa. Rasional : untuk mempertahankan terapi cairan.
6)Pantau berat jenis urine setiap 8 jam atau sesuai indikasi. Rasional : untuk mengkaji hidrasi.
7)Timbang berat badan anak. Rasional : untuk mengkaji dehidrasi klien.
8)Kaji tanda-tanda vital, turgor kulit, membran mukosa dan status mental setiap 4 jam. Rasional : untuk mengkaji hidrasi.
9)Hindari masukan cairan jenis seperti jus buah, minuman berkarbonat, dan gelatin. Rasional : cairan ini biasanya tinggi karbohidrat, rendah elektrolit dan mempunyai osmolalitas tinggi.
b.Perubahan nutiris kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan cairan melalui diare, masukan yang tidak adekuat.
Tujuan : pasien mengkonsumsi nutrisi yang adekuat untuk mempertahankan berat badan yang sesuai dengan usia.
Intervansi :
1)Setelah rehidrasi, instruksikan ibu menyusui untukj melanjutkan pemberian ASI. Rasional : hal ini cenderung mengurangi kehebatan dan durasi penyakit.
2)Hindari pemberian diet dengan pisang, beras, apel, dan roti panggang. Rasional : diet ini rendah dalam energi dan protein, terlalu tinggi dalam karbohidrat, dan rendah elekktrolit.
3)Observasi dan catat respon terhadap pemberian makanan. Rasional : untuk mengkaji tolerannsi pemeberian makan.
4)Instruksikan keluarga dalam memberikan diet yang tepat. Rasional : untuk meningkatkan kepatuhan terhadap program terapeutik.
c.Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan mikroorganisme yang menembus saluran gastrointestinal (GI)
Tujuan : pasien (orang lain) tidak menunjukkan tanda infeksi gastrtointestinal.
Intervensi :
1)Pertahankan pencucian tangan yang benar. Rasional : untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi
2)Pakaikan popok dengan tepat. Rasional : untuk mengurangi kemungkinan penyebaran faeces.
3)Gunakan popok sekali pakai. Rasional : super absorbent untuk menumpung faeces dan menurunkan kemungkinan terjadinya dermatitis.
4)Upayakan untuk mempertahankan bayi dan anak kecil dari menempatkan tangan dan objek dalam area terkontaminasi. Rasional : mencegah penyebaran mikroorganisme ke tempat lain.
5)Ajarkan teknik, bila mungkin, tindakan perlindungan. Rasional : untuk mencegah penyebaran infeksi seperti pencucian tangan setelah penyebaran infeksi.
6)Instruksikan anggota keluarga dan pengunjung dalam praktek isolasi, khususnya mencuci tangan. Rasional : untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi.
d.Kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan iritasi karena diare.
Tujuan : anak tidak mengalami tanda-tanda kerusakan kulit.
Intervensi :
1)Ganti popok dengan sering. Rasional : untuk menjaga agar kulit tetap bersih dan kering.
2)Bersihkan bokong perlahan-lahan dengan sabun lunak, non alkalin. Rasional : faeces diare sangat mengiritasi.
3)Beri salep seperti seng oksida. Rasional : untuk melindungi kulit dari iritasi.
4)Pajankan dengan ringan kulit utuh yang kemerahan pada udara jika mungkin. Rasional : untuk meningkatkan penyembuhan.
5)Hindari penggunaan tissu basah yang dijual bebas yang mengandung alcohol pada kulit yang terekskoriasi. Rasional : akan menyebabkan rasa menyengat.
6)Obsevasi bokong dan perineum akan adanya infeksi, seperti kanndida. Rasional : sehingga terapi yang teapt dapat di mulai.
e.Kecemasan berhubungan denan perpisahan dengan orang tua, lingkungan tidak dikenal, prosedur yang menimbulkan stress.
Tujuan : anak menunjukkan ddistress fisik atau emosional yang minimal dan keluarga berpartisipasi dalam perawatan anak sebanyak mungkin.
Intervensi :
1)Dorong kunjungan dan partisipasi keluarga dalam perawatan. Rasional : untuk mencegah stress yang behubungan dengan perpisahan.
2)Sentuh, gendong, bicara pada anak sebanyak mungkin..
3)Beri stimulus sensori dan pengalihan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan kondisinya. Rasional : untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
f.Perubahan proses keluarga berhubungan dengan krisis situasi, kurang pengetahuan.
Tujuan : keluarga memahami tentang penyakit anak dan pengobatannya mampu memberikan perawatan.
Intervensi :
1)Berikan informasi pada keluarga tenatng penyakit dan tindakan terapeutik. Rasional : untuk mendorong terhadap program terapeutik.
2)Bantu keluarga dalam memberikan rasa nyaman, dukungan pada anak. Rasional : untuk memberikan perasaan nyaman pada keluarga dan anak.
3)Izinkan anggota keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak. Rasional : untuk memenuhi kebutuhan anak.
4)Instruksikan keluarga mengenal pencegahan. Rasional : mencegah penyebaran infeksi.
5)Atur perawatan kesehatan pasca hospiitalisasi. Rasional : untuk persiapan keluarga / klien pulang.
6)Rujuk keluarga pada lembaga perawatan komunitas. Rasional : untuk pengawasan perawatan sesuai kebutuhan.
4.Impelmentasi
Pelaksanaan perawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan untuk memperoleh pelaksanaan yang efektif, dituntut pengetahuan, keterampilan dan kemampuan berhubungan / berkomunikasi dengan anak / kelaurga.
Ada dua syarat hasil yang diharapkan dalam pelaksanaan perawatan yaitu :
a.Adanya bukti bahwa klien sedang dalam proses menuju kepada tujuan atau telah mencapai tujuan tersebut.
b.Adanya bukti bahwa tindakan-tindakan perawatan dapat diterima oleh klien.
Proses pelaksanaan perawatan mencakup 3 hal :
a.Melaksanakan rencana keperawatan
Yaitu segala informasi yang tercakup dalam rencana keperawatan merupakan dasar atau pedoman dalam intervensi perwatan.

b.Mengidentifikasi reaksi / tanggapan klien
Dalam mengidentifikasi reaksi klien dituntut upaya yang tidak tergesa-gesa dan cermat serta teliti, agar menemukan reaksi-reaksi klien sebagai akibat tindakan perawatan yang diberikan dengan melihat, akan sangat membantu perawat dalam mengidentifikasi reaksi klien yang mungkin menunjukkan adanya penyimpangan-penyimpangan.
c.Mengevaluasi tanggapan / reaksi klien
Dengan cara membandingkan terhadap syarat-syarat dengan hasil yang diharapkan. Langkah ini merupakan syarat yang pertama di penuhi bila perawat telah mencapai tujuan.
5.Evaluasi
Evaluasi untuk mengetahui sejauh mana pencapaian tujuan dalam asuhan keparawatan yang telah dilakukan, sebagai berikut :
a.Apakah tujuan keperawatan sudah tercapai atau belum ?
b.Apakah masalah yang ada telah teratasi ?
c.Apakah perlu pengkajian kembali ?
d.Apakah timbul masalah baru ?

Poenges Marilyam E, dkk, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi ke Tiga Jilid I, Jakarta.
Mansoer Arief, dkk, 2000 ; Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ke Tiga Jilid I, Jakarta.
Ngastiyah, 1999, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta
Smeltzer and Bare C, 2000, Buku Ajar Medikal Bedah Brunner and Suddarth, Edisi 8, Volume 2, EGC, Jakarta.
Soegijanto Soegeng, 2002, Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa dan Penatalaksanaan, Edisi I, Salemba Medikal, Jakarta

2 Tanggapan

  1. Ijin mengcopy artikel ini ya mba’

    sebelumnya terimakasih banyak ….

    blog nya mba’ ini luengkap banget ….

    makasih, terus semangat dan terus aktif ya mengupdate informasi2 nya

    ganda.

  2. thanks ya buat artikel ny..
    bleh di copy kan..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: