“ROY VS HAIV/AIDS”

“ROY VS Hiv/aids”

Alkisah dari seorang anak manusia yang bernama Roy, berusia 21 tahun, masuk rumah sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar diantar oleh teman kuliahnya dalam keadaan tidak sadar yang ditemukan tergelatak di WC kampusnya. . . . . lanjutan kisahnya setelah yang satu ini……..

………………………………………………………………

Selarik cerita tentang Roy sebelum kisah ini dilanjutkan….. Roy merupakan seorang anak tunggal dari keluarga broken home, ayah dan ibunya telah bercerai sejak 1 tahun yang lalu. Sejak peristiwa itu Roy yang dahulunya seorang anak yang berbakti, baik dan pintar telah berubah 1800 menjadi seorang yang keras, tempramental dan pemalas. Ia jarang tinggal di rumah dan mulai bergaul dengan teman-teman yang tidak benar. Ia sering membohongi dan membantah ibunya jika ditanya dan dilarang apa yang dilakukannya. Dia mulai sering bolos kuliah dan lebih memilih pergi bersenang-senang dengan teman-temannya ketimbang pergi kuliah. Dan dalam pergaulannya inilah Roy mengenal dunia yang dianggapnya sebuah surga tapi justru hal itulah yang menghantarnya ke neraka yang sesungguhnya. Roy menjadi pecandu alkohol, narkotika serta ketergantungan obat-obat terlarang (narkoba). Sakau menjadi fenomena biasa dalam kesehariannya. Dan fenomena inilah yang telah membawanya ke cerita kita pada pementasan kali ini. Ikutilah kisah selanjutnya..yang penuh dengan dramatisasi kehidupan………

………………………………………………………….

Tiba di rumah sakit, pasien segera mendapat pertolongan, mulai dari administrasi, pemeriksaan dan perawatan.

Adegan I

( Pasien istirahat di tempat tidur, sementara ibunya duduk disamping kanannya sedangkan tantenya yang merupakan adik kandung ibunya duduk di samping kirinya)

Pasien😦 Dalam kondisi berbaring lalu berbicara kepada ibunya ) “ibu, maafkan aku..maafkan aku?” (tangannya menggapai tangan ibunya lalu digenggam erat-erat lalu diciumnya).
Ibu : (Mengusap-usap kepala anaknya) ”anakku, sebelum kamu minta maaf, ibu sudah maafkan” (tangannya terus mengusap kepala anaknya).
Tante : “ibu kamu sangat sayang sama kamu, sampai-sampai setiap kesalahan yang kamu lakukan terhalalkan walaupun kamu sudah durhaka kepadanya”, ( tantenya tidak bisa menahan ledakan emosi) “untung ada teman kamu yang membawa kesini, jika nda pasti kamu udah tidak ketemu dengan ibumu lagi”? (ketus tantenya lagi).
Ibu : “sudahlah ros, tho sekarang Roy sudah sadar dan tidak akan mengecewakan saya lagi ( menatap mata adiknya dalam2) lalu menghembuskan napas yang agak tertahan sejak tadi, “nak kamu jangan ulangi lagi ya”? kembali menatap anak yang sangat dikasihinya).

(Di luar kamar pasien, tampak seorang perawat sedang menjinjing nursing kit ………tiba-tiba pintu kamar diketuk dan perawat masuk ke ruangan)

Suster A :” selamat pagi!! ( sapanya dengan ramah sambil tersenyum )

(“Selamat pagi suster”, jawab tiga orang dalam ruangan itu serentak disertai dengan senyum juga.

Suster A : (Berjalan ke arah pasien dan senyum terus mengambang dibibirnya) “Ibu, ade’ nama saya Suster A, saya dan teman saya suster B adalah perawat yang ditugaskan untuk merawat adik selama di rawat disini. Saya bertugas dari jam 7.00 pagi sampai jam 2.00 siang, jadi kalau ada yang dibutuhkan ibu atau adik bisa minta kepada saya. (tangan menujuk keluar) “ruangan saya berada disebelah kanan dari kamar ini (ruangan perawat). (meletakkan nursing kit disisi tempat tidur pasien lalu memegang pundak pasien) “bagaimanami keadaanta’ de’,”? “ keluhan apa yang dirasakan sekarang”?
Pasien : “badanku lemah sekali sus, kepalaku juga terasa berat dan kalau mau bangun pusing”?( sambil memegang kepalanya).
Suster A : “ ibu (memandang ibu pasien dengan lembut), sekarang saya harus mengukur tanda-tanda vital anak ibu”
Ibu : “silahkan suster (berdiri dan memberi ruang yang agak luas kepada perawat untuk melaksanakan tugasnya)
Suster A : (Hanya tersenyum, lalu menyiapkan alat-alat yang akan digunakannya), “permisi ya ade’, bisa saya ukur tekanan darah, nadi, pernapasan dan suhunya sekarang?”.
Pasien : “iya suster, sus saya sering berkeringat, nda enak sekali perasaanku” (keluhnya datar).
Ibu : “dia juga nda mau makan sus, katanya nda selera”
Suster A : “Berkeringat banyak dan kurang nafsu makan adalah gejala dari suatu penyakit…tensinya 100/70 mmHg dan suhunya 38.50C, suhu tinggi membuat adik banyak berkeringat. “Ibu, ada air hangatnya ? sebaiknya sekarang roy dikompres untuk menurunkan panas” (jelasnya dengan sopan)
Tante : “adajie suster, nanti kami yang mengompresnya”
Pasien : “Suster, apa penyakitku? Sampai kapan saya akan berada disini? (ada nada cemas menyertai suaranya).
Suster A : “Sampai sekarang belum ada diagnosa pasti, kami masih menunggu hasil lab adik (tersenyum) “kita sama-sama berdoa mudah-mudahan bukan penyakit serius”. “sekarang adik istirahat ya, saya masih harus mengukur TTV pasien yang lain. Sekitar jam 8.00 pagi nanti saya atau teman saya akan kesini lagi untuk menyuntik obat adik ya..!
Pasien : “terima kasih suster”

( setelah pengukuran TTV dan dialoglog singkat itu perawat A meninggalkan kamar pasien)
(keluarga mengompres pasien seperti anjuran perawat A tadi)
(Tiba-tiba pintu diketuk lagi dan tampak perawat B melangkah masuk)

Suster B : “selamat pagi (ucapnya dengan sopan dan ramah)

(“Selamat pagi suster”, jawab ibu dan tante klien )

Suster B : “Apa benar ini Tn. R?
Pasien : “benar suster”
Suster B : “sekarang saatnya obat ade disuntikkan ya”?
Pasien : “ya suster”
Suster B : (setelah menyuntik lalu melihat ke ibu klien) “ibu, orang tuanya Tn R?”
Ibu : “iye sus, saya ibunya” “ada apa ya sus? (wajahnya tampak sedikit cemas).
Pasien : (menyadari perubahan diraut wajah ibu) “begini bu’, tadi saya diminta oleh dokter untuk menyampaikan ke ibu, agar bisa menemui dokter A di ruangannya”.
Ibu : “Baik suster, tapi saya tidak tau dimana ruangan dokternya”?
Suster B : “Mari ibu saya antarkan ( pamit pada pasien lalu berjalan keluar)
Ibu : (Menoleh ke adiknya) “ Ros, kamu jaga dulu Roy’ na’, saya ke ruangan dokter sebentar”
Teman : “ Iye, pergi saja’ saya pi yang jagaki’”
(Ibu dan perawat keluar ,sedangkan tante pasien tampak menarik kursi untuk duduk disamping klien)

Adegan II

( Perawat B mengetuk pintu, lalu masuki ke ruangan dokter diikuti oleh ibu pasien)

Suster B : “Selamat pagi dokter, Dok ini ibunya Tn. R,”
Dokter : (Mengangguk) “Silahkan duduk bu,” ( sambil tersenyum)

( Dokter tampak sedang membuka buku status dan matanya tertuju pada hasil pemeriksaan laboratorium )

Dokter : “Begini bu’, ini kami sudah melakukan pemeriksaan yang sedetail mungkin terhadap anak ibu, dan hasilnya sudah ada di tangan saya”? (memegang status).
Ibu : ( Ekspresi cemas ) “ anakku sakit apa dok”?
Dokter : “Ibu sabar ya, berdasarkan pemeriksaan kami, anak ibu positif menderita penyakit HIV/AIDS” tutur dokter dengan jelas dan datar.
Ibu : ( Setengah berteriak dengan ekspresi terkejut) “ Ya.. ALLAH , anakku, tidak mungkin…( air mata tampak mengalir ke pipinya)
Dokter : “ Ibu tenang ya, ibu harus sabar, kami paham perasaan ibu sekarang”
Suster B : (memegang pundak ibu) “Iya bu,, ibu harus kuat demi anak ibu”
Ibu : “Saya memang sudah merasa kalau Roy melakukan hal yang salah di luar sana, tapi saya tidak menyangka akan seperti ini, saya tidak sanggup untuk sampaikan hal ini ke roy’, dia pasti tidak bisa menerima,” “Ya..Allah kenapa kamu menghukum kami seperti ini”? (Air mata terus mengalir membasahi pipi ibu setengah baya itu)
Suster B : “ Tenangki ya bu’ nanti saya bantuki’, nanti kita sama-sama sampaikan ke anaknya ibu ya,”?

( Perawat dan ibu lalu meninggalkan ruangan dokter dan menuju ke kamar pasien)

Adegan III

(Ibu dan suster berjalan beriringan masuk)

Pasien : “ Datangmaki’ bu’ apaji nabilang dokter”? (Tiba-tiba matanya tertuju pada mata ibunya yang merah dan sembab, “ kenapaki bu’? kenapa menangiski’? apa nabilang dokter? Sakit apaka’?
( pasien tamapak semakin cemas dan tidak sabar)
Tante : “ Sakit apaki’ Roy’ kak? (lalu menoleh ke perawat) “ suster kenapaki keponakanku? Sakit apaki?
Pasien : “ iya suster, sakit apaka? Kenapa mamaku tidak mau natanyaka?
Suster B : ( menghampiri pasien lalu mengelus-elus kepalanya, dengan tatapan yang lembut dan perhatian) “de’ tenangki dulu nah,.. apa adik sudah siap untuk mendengarnya”? pertanyaan perawat semakin menegangkan suasana di kamar itu.
Pasien : “Saya siap suster, sakit apa ka’ kah”? (dengan suara yang lemah tapi gemetar)
Suster B : (menarik napas lalu menghembusnya perlahan) “ Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan, adik positif menderita penyakit HIV/AIDS”
Pasien : (tersentak, tampak seolah – olah tidak percaya lalu berteriak) “apa suster? HIV/AIDS? Aku tidak percaya, suster bohong..mustahil..” (sambil menangis dan memukul-mukul tempat tidur, lau berteriak lagi ) “ tidak’ tidak mungkin, ibu….’ bohongki’ suster toh? (air mata mengalir)

( Ibu pasien masih terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya terus mengalir. tante menghampiri ibu lalu merangkul bahunya. Mereka sama-sama terdiam seribu bahasa dalam leraian airmata).

Suster B : “Tenangki de’ , istigfarki.. Masih ada Tuhan yang menentukan hidup manusia , berdoaki kepada-Nya, Mudah-mudahan ada keajaibannya”
Pasien : “ Tuhan!! Tuhan tidak adil! Kenapa tidak henti-hentinya mengambil kebahagiaannku!? Apa salahku!? Kenapa aku yang dihukum,.. kenapa!!? ( lalu menangis)
Suster B : “Janganki’ bilang begitu de’ tuhan itu Maha Adil dan Penyanyang. Dan hanya orang – orang yang mampu yang diberi cobaan seperti ini. Ade’ harus kuat menghadapinya. “ Mungkin ade, bisa merenung, apa sebenarnya yang telah ade lakukan sehingga penyakit ini menyerang ade? “kehidupan dan pergaulan adik akhir-akhir ini, apa yang adik konsumsi dan kerjakan?” Ini bukan hukuman tapi konsekuensi dari perbuatan ade sendiri”! (jelasnya lembut).
Pasien : “Ah.. sudahlah.. Tuhan Jahat..jahat!!!!

(Pasien membelakangi perawat, menutup mukanya, lalu tangisnya bertambah keras. Pasien tidak mau melihat orang-orang yang ada disekitarnya).

Pasien : “ Keluar semua dari ruagan ini..tinggalkanka’ sendiri..nda usah pedulikan saya.. pergi..pergi..pergi..”
Suster B : “Ibu keluarmaki dulu, biarkanmi dulu ade R’ sendiri”
Tante : “Iye kak, keluarmaki dulu, mungkin Roy memang butuh sendiri sekarang. Nanti klo udah tenang kita masuk lagi, ya kak”

(perawat, ibu dan tante keluar dari ruangan dengan perasaan yang bercampur aduk {sedih, kecewa, marah, simpati dll})

Adegan IV

(Di dalam kamar, tampak pasien masih menangis. Jelas terpancar rasa sakit hati dan penyesalan yang sangat dalam pada raut wajahnya).

Pasien : “ lebih baik kuakhiri saja hidupku sekarang” ketusnya sendiri sambil terus teresak, “kan aku tetap akan mati, aku hanya membebankan ibu dan membuatnya malu, ya aku harus mati sekarang”.

( Berusaha bangun dan mencapai pisau yang ada di atas meja)
(kembali memperbaiki baringnya, air mata terus mengalir, saat pisau disentuhkan pada vena yang hendak ditusuk, bayangan ibu yang penyanyang yang selama ini didurhakainya memenuhi cakrawala pikirannya)

Pasien : “ibu, maafkan aku… aku sudah menghancurkan segala harapanmu. Aku tidak layak menjadi anakmu” hatinya bicara. “lebih baik aku akhiri semuanya sekarang sebelum ibu tambah menderita karena saya”. “tapi ibu…….apa benar kamu akan bahagia kalau aku pergi tanpa pamit……ibu (teriaknya dalam hati). (tiba-tiba hatinya sadar, ini hukuman tuhan baginya_ “Ya..Allah akankah engkau mengampuni dosaku ini??? Ah.. tidak mungkin, engkau hanya bisa menghukumku tanpa henti..engkau ambil keluargaku, ayahku, baktiku terhadap ibuku, senyuman ibuku dan sekarang engkau bahkan mau mengambil nyawaku. Aku begini karena ingin mencari ketentraman di luar rumah sehingga aku mendekati narkoba cs.. (tiba-tiba pisau yang ada ditangannya dilayangkan ke dinding) “Arrgh…”
( lalu pasien menelungkupkan mukanya ke bantal).

Adegan v

(Beberapa waktu kemudian,ibu dan tante pasien masuk kekamar dan pasien tampak tertidur)

Tante : “kak, kayaknya Roy’ ketiduran. Mudah-mudahan klo bangun nanti perasaannya jauh lebih baik dan sudah bisa menerima kenyataan akan kondisi penyakitnya”
Ibu : “ Iya, Ros, kita smua sangat menyayangi Roy’ tapi ternyata ALLAH SWT. lebih sayang kepadanya. Mudah-mudahan ada hikmah dibalik semua ini. Kita sebagai manusia harus siap menerima takdir yang ditentukan dalam kehidupan kita” “Anakku jadi begini, karena salah masalah yang terjadi antara saya dengan ayahnya, dia lebih sering keluar rumah dan ternyata dia terjun ke jurang yang menenggelamkan masa depan dan seluruh kehidupannya.. Ya Tuhanku ampunilah kami” doanya dalam isak tangis.
Tante : “sekarang nasi sudah jadi bubur, siapa yang mau disalahkan lagi!!! Mau atau tidak kenyataan pahit di depan mata ini harus diterima oleh kakak, Roy dan seluruh anggota keluarga”.

(Tanpa disadari, percakapan yang terjadi antara ibu dan tantenya didengar oleh pasien karena sejak tadi dia tidak tidur, Cuma mukanya ditelungkupkan ke bantal dan buat seolah-olah tidur)
(Tiba-tiba suster masuk kedalam ruangan)

Suster B : “Sore bu, bagaimana keadaan Roy sekarang”?

(Belum sempat ibu menjawab, Pasien membuka matanya lalu menyapa perawat)

Pasien : “ Bae maka suster”

(Ketiga orang yang berada dalam kamar serentak menoleh ke pasien dan menunjukkan ekspresi kaget dengan perubahan respon yang ditunjukkan oleh pasien tersebut)

Pasien : “Kenapa semua liat-liatika’”?
Ibu : (Memeluk anaknya) nda apa-apamiki nak”?
Tante : (memegang pasien) “Roy’”?
Pasien : “Nda apajaka”
Suster B : (memegang tangan pasien) “ Jadi.. ade’…..

(Belum sempat perawat melanjutkan kata-katanya.. langsung dipotong oleh pasien)

Pasien : “iya suster..bisamaka terima keadaanku. Saya sadar bahwa smua yang terjadi ini adalah hukuman buat saya, atas segala kekhilafan yang telah saya lakukan” “ibu, maafkan aku sudah menghancurkan semua harapan ibu, ibu aku akan mati!!
Ibu : (secepat kilat menutup mulut anaknya dengan telunjuk), jangan bicara seperti itu anakku, kamu adalah anugerah terindah dan cahaya buat ibu. Ibu sangat saya sama kamu. (memeluk anaknya)
Pasien : “maafkan aku ibu,”

(keheningan ruangan sejak tadi, dipecahkan oleh isak tangis mereka)
(perawat dan tante berdiri kaku, laksana menyaksikan adegan sinetron yang menyayat hati antara ibu dan anak).

(Perawat berjalan mendekati mereka berdua)
Suster B : “ ibu, ade, saya mengerti perasaanta, vonis penyakit seperti ini merupakan hal mengerikan yang tidak pernah terbayang oleh kita, tapi inilah garis kehidupan yang harus dijalani. pasti ada hikmahnya dan semua itu adalah rencana ALLAH SWT, walaupun sebenarnya manusialah yang mengundangnya.
Pasien : “berapa lama lagi saya akan hidup suster”? tanyanya dengan suara yang gemetar dan mata berkaca-kaca.
Ibu : “Apa benar anakku sudah tidak ada harapan lagi?”
Suster B : (melihat ibu dan anak yang tampak tegang itu silih berganti) “untuk penyakit seperti ini, memang sampai saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya, tapi jika ade dapat dan bersedia mengikuti semua tindakan perawatan yang diberikan dengan baik, perkembangannya dapat ditekan atau dihambat, sehingga pasien masih dapat hidup lebih lama, walaupun kita tau bahwa ajal dan maut itu ada di tangan Tuhan” jelasnya dengan hati-hati.
Pasien : “saya akan turuti semuanya, suster” (menatap suster).
Suster B : (melihat ibu) “ sebagai orang terdekat, ibu juga hendaklah waspada terhadap penularan dari penyakit ade ini, karena ia dapat menular dengan cepat”
Ibu : “jadi apa yang harus saya lakukan sus”?? tanyanya dengan suara terbata-bata.
Suster B : “ ibu tidak boleh kontak langsung dengan darah Roy, jangan berganti peralatan makan dan tidak terkena semua jenis caran yang keluar dari tubuh Roy. Ini semua demi kebaikan bersama.
Pasien : “ Jadi ibu tidak boleh menyentuh saya lagi”??
Suster B : (Memengang bahu dan menatap klien dengan lembut) “ ibu bisa mengurusi adik seperi biasa, Cuma harus berhati-hati terhadap hal yang telah saya sebutkan tadi” jelasnya dengan nada seakan-akan memujuk.
Pasien : “Saya paham sekarang sus” matanya melirik ke ibunya dengan raut wajah bersalah dan penuh penyesalan.

(Perawat tersenyum mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pasien tersebut. Perawat bersyukut pasien dapat menerima kondisinya walaupun ia sangat pahit untuk ditelan. Perawat lalu menyuruh pasien istirahat dan pamit untuk keluar dari kamar itu).

Suster B : Sekarang adik istirahat na’, saya harus keluar sekarang. Jam dinas saya untuk hari sudah selesai. Saya akan digantikan oleh perawat yang shif sore. Nanti mereka yang akan membantu segala kebutuhan adik. Saya keluar dulu ya.. ibu ( melihat ke ibu dan tante klien) adik ( melihat pasien).
Pasien : “ terima kasih suster”

( ucapan terima kasih dibalas perawat dengan senyum lalu melangkah meninggal kamar tersebut).

………………………………………………………………………………….

Demikianlah alkisah “ROY VS HAIV/AIDS” yang telah dipersembahkan oleh kelompok IX yang telah diperankan oleh :
…………………………………………………………………………………………………………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: