GLAUKOMA

A.Glaukoma.
Glaukoma adalah suatu gejala dari kumpulan penyakit yang menyebabkan suatu resultan yakni meningginya tekanan intra okuler yang cukup untuk menyebabkan degenerasi optic disk atau kelainan dalam lapangan pandang.

B.Etiologi.
a.Keturunan dalam keluarga.
b.Diabetes mellitus.
c.Arteriosklerosis
d.Pemakaian kortikosteroid dalam waktu yang lama.
e.Myopia tinggi dan progresif.

C.Klasifikasi Glaukoma.
Vaughan (1919) membuat klasifikasi glaukoma sebagai berikut :
1.Glaukoma primer
Glaukoma primer sudut terbuka (simple glaucoma) adalah yang paling sering ditemukan.
Glaukoma primer sudut tertutup (narrow angle glaucoma) ditemukan dlam bentuk akut, sub akut dan kronik.
2.Glaukoma sekunder
Disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam lensa, traktus uvealis, trauma.
Komplikasi dari salah satu operatif mata.
Berhubungan dengan rubeosis (DM)
Penggunaan kortikosteroid topikal.
Sebab yang lain jarang.
3.Glaukoma congenital.
Glaukoma kongeniotal primer (infantile) bleftalmus atau hidroftalmus.
Glaaukoma yang menyertai kelainan-kelainan congenital.
4.Glaucoma absolute.
Hasil akhir dari suatu glaucoma yang tidak terkontrol yaitu mengerasnya bola mata, berkurangnya penglihatan sampai dengan nol, dan rasanyeri. Glaucoma absolute merupakan keadan terakhir dari semua macam glaucoma dimana ketajaman penglihatan sudah menjadi nol, rata-rata terjadi setelah satu atau dua tahun serangan pertama glaucoma apabila tidak mendapat pengobata, tidak dioperasi, salah diagnosis, salah penanganan atau tekanan intra okuler dibiarkan meninggi.

D.Manifestasi Klinik
Umumnya dari riwayat keluarga ditemukan anggota keluarga dalam garis vertical atau horizontal memiliki penyakit serupa, penyakit ini berkembang secara perlahan namun pasti, penampilan bola mata seperti normal dan sebagian besar tidak menampakan kelainan selama stadium dini. Pada stadium lanjut keluhan klien yang mincul adalah sering menabrak akibat pandangan yang menjadi jelek atau lebih kabur, lapangan pandang menjdi lebih sempit hingga kebutaan secara permanen. Gejala yang lain adalah :
Mata mera dan sakit tanpa kotoran.
Kornea suram.
Diserttai sakit kepala hebat terkadang sampai muntah.
Kemunduran penglihatan yang berkurang cepat.
Nyeri di mata dan sekitarnya.
Udema kornea.
Pupil lebar dan refleks berkurang sampai hilang.
Lensa keruh.

E.Pemeriksaan Diagnostic.
1.Oftalmoskopi : Untuk melihat fundus bagian mata dalam yaitu retina, discus optikus macula dan pembuluh darah retina.
2.Tonometri : Adalah alat untuk mengukurtekanan intra okuler, nilai mencurigakan apabila berkisar antara 21-25 mmhg dan dianggap patologi bila melebihi 25 mmhg.
3.Pemeriksaan lampu-slit.
Lampu-slit digunakan unutk mengevaluasi oftalmik yaitu memperbesar kornea, sclera dan kornea inferior sehingga memberikan pandangan oblik kedalam tuberkulum dengan lensa khusus.
4.Pemeriksaan Ultrasonografi..
Ultrasonografi dalai gelombang suara yang dapat digunakan unutk mengukur dimensi dan struktur okuler. Ada dua tipe ultrasonografi yaitu :
A-Scan-Ultrasan.
Berguna untuk membedakan tumor maligna dan benigna, mengukur mata untuk pemsangan implant lensa okuler dan memantau adanya glaucoma congenital.
B-Scan-Ultrasan.
Berguana unutk mendeteksi dan mencari bagian struktur dalam mata yang kurang jelas akibat adanya katarak dan abnormalitas lain.

F. Penatalaksanaan.
Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan TIO ke tingkat yang konsisten dengan mempertahankan penglihatan, penatalaksanaan berbeda-beda tergantung klasifikasi penyakit dan respons terhadap terapi.
a.Terapi obat.
Aseta Zolamit (diamox, glaupakx) 500 mg oral.
Pilokarpin Hcl 2-6 % 1 tts / jam.
b.Bedah lazer.
Penembakan lazer untuk memperbaiki aliran humor aqueus dan menurunkan tio.
c.Bedah konfensional.
Iredektomi perifer atau lateral dilakukan untuk mengangkat sebagian iris unutk memungkinkan aliran humor aqueus Dari kornea posterior ke anterior.
Trabekulektomi (prosedur filtrasi) dilakukan untuk menciptakan saluran balu melalui sclera.

Daftar Pustaka.
1. Brunner and suddart, Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, vol. 3, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran , EGC, 2002.
2. Marylin E. Doengus, Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 8, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran , EGC, 2002.
3. Agus Purwadianto, Pedoman Pelksanaan Praktis Kedaduratan Medik, edisi 2, Jakarta : Penerbit Panitia Luluisan Reguler Universitas Indonesia, 2002.
4. Ditjen Binkesnas Depkes RI, Buku Pedoman Kesehatan Mata dan Pencegahan Kebutaan Untuk Puskesmas, Jakarta, 2002.

KESIMPULAN :

Klien Ny. S, umur 60 tahun, masuk RS sejak tanggal 12 – 4 – 2005, dilakukan pengkajian tanggal 25 April 2005 dengan keluhan utama mata kanan klien kabur, dan kemerahan, sakit kepala dan sakit pada rongga mata serta keluar air mata yang berlebih. Dengan diagnosa medik : Glaukoma.

Pada saat pengkajian ditemukan data – data sebagai berikut :
Tidak ada perubahan dalam pola nutrisi, eliminasi. Setelah mata kiri klien kabur klien sudah tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasa, TD : 120/80 mmHg; N : 72 x / menit; S : 36,5 o C; P : 24 x / menit. Klien merasa kuatir dan mengeluhkan sakit kepala dan daerah rongga mata, klien tampak meringis, Mata : Ukuran pupil : OD : unround, OS: 2-3 mm, anisokor. Refleks terhadap cahaya: OD: (-) OS : (+), Visus OD: 0; OS : 5/60. bentuk simetris, conjungtiva OS : tidak anemis, OD : Hyperemis. TOD : 1/5,5 atau 3/10 = 50,6 mmhg, TOS : 4/5,5 = 20,6 mmhg. Tidak ada masalah dengan mulut dan tenggorokan. Dada, paru, jantung, sirkulasi, abdomen dan ekstremitas.

Hasil Lab : 25 April 2005
TTGO : 82 mg/dL
GD 2 Jam : 99 mg/dL
Ureum darah : 41,9 mg/dL
Kreatinin darah : 0,55 mg/dL
SGOT : 15 mg/dL
SGPT : 13 mg/dL
Colesterol total : 128 mg/dL
HDL : 33 mg/dL
LDL : 75 mg/dL
Trigliserida : 221 mg/dL

Terapi :
C Timolol 0,5 2 x 1 tts OD
Glapen 1 x 1 tts OD.
Glaucon 3 x 1 500 mg
As. Mefanamat 3 x 500 mg

Berdasarkan pengkajian diagnosa keperawatan didapat:
1.Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intra okuler.
2.Anxietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
2.Gangguan persepsi sensorik: penglihatan berhubungan dengan penurunan fungsi organ visual.

4 Tanggapan

  1. senang baca artikelnya nih bagus…sangat bermanfat buat kita

  2. Ibu saya usia 80 tahun menderita sakit mata sebelah kanan, tidak bisa melihat dan kepala pening. Menurut dokter, Ibu saya sakit Glaukoma Sekunder OD. Menurut dokter tsb, mata kanan Ibu saya sudah tidak dapat untuk melihat meskipun dilakukan operasi. Kalaupun dioperasi hanya bisa untuk menghilangkan rasa sakit, namun mata tetap tidak dapat untuk melihat. Saat ini Ibu saya berobat di RS Bayukarta, Karawang, Mohon petunjuk … terima kasih. Wassalam, Arik

  3. siiiipppppp…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: