KONJUGTIVITIS

KONSEP DASAR
Infeksi system penglihatan merupakan kelainan gangguan system penglihatan, terutama konjungtivitis. Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtivitis mata tampak merah, sehingga sering disebut mata merah. Konjungtivitis dapat menyerang pada semua tingkat usia.

ETIOLOGI
Pembagian konjungtivitis berdasarkan penyebabnya :
Konjungtivitis akut bacterial, mis: konjungtivitis blenore, konjungtivitis gonore, konjungtivitis difteri, konjungtivitis folikuler, konjungtivitis kataral.
Konjungtivitis akut viral, mis: keratokonjungtivitis epidemik, demam faringokonjungtiva, keratokonjungtivitis herpetic.
Konjungtivitis akut jamur
Konjungtivitis akut alergik
Konjungtivitis kronis, mis: trakoma.
Personal hygiene dan kesehatan lingkungan yang kurang, alergi, nutrisi kurang vitamin A, iritatif (bahan kimia, suhu, listrik, radiasi ultraviolet), juga merupakan etiologi dari konjungtivitis.

PATOFISIOLOGI
Mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), bahan alergen, iritasi menyebabkan kelopak mata terinfeksi sehingga kelopak mata tidak dapat menutup dan membuka sempurna, karena mata menjadi kering sehingga terjadi iritasi menyebabkan konjungtivitis. Pelebaran pembuluh darah disebabkan karena adanya peradangan ditandai dengan konjungtiva dan sclera yang merah, edema, rasa nyeri, dan adanya secret mukopurulent.
Akibat jangka panjang dari konjungtivitis yang dapat bersifat kronis yaitu mikroorganisme, bahan allergen, dan iritatif menginfeksi kelenjar air mata sehingga fungsi sekresi juga terganggu menyebabkan hipersekresi. Pada konjungtivitis ditemukan lakrimasi, apabila pengeluaran cairan berlebihan akan meningkatkan tekanan intra okuler yang lama kelamaan menyebabkan saluran air mata atau kanal schlemm tersumbat. Aliran air mata yang terganggu akan menyebabkan iskemia syaraf optik dan terjadi ulkus kornea yang dapat menyebabkan kebutaan. Kelainan lapang pandang yang disebabkan kurangnya aliran air mata sehingga pandangan menjadi kabur dan rasa pusing


PENATALAKSANAAN
Konjungtivitis biasanya hilang sendiri. Tapi tergantung pada penyebabnya, terapi dapat meliputi antibiotika sistemik atau topical, bahan antiinflamasi, irigasi mata, pembersihan kelopak mata, atau kompres hangat.
Bila konjugtivits disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana cara menghindari kontaminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat memberikan instruksipada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit kemudian menyentuh mata yangs ehat, untuk mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
Pada pemeriksaan ini yang perlu diperhatikan adalah kelopak mata dan sekitarnya ada udem, keadaan konjungtingva hiperemis dan ada secret mukopurulen, keadaan kornea hiperemis dan ada peradangan. Data subjektif, klien mengatakan matanya terasa nyeri, gatal dan rasa ada benda asing.
Pemeriksaan kultur dan sitologik secret konjungtiva untuk mengetahui kemungkinan penyebab infeksi, seperti:
Sel eosinofil umumnya merupakan akibat atopi , terutama konjungtivitis vernal
Sel polimorfonuklear leukosit, merupakan akibat infeksi bakteri atau chlamydia.
Sel limfosit, merupakan gambaran karakteristik infeksi akibat virus atau suatu infeksi kronis
Sel epitel dengan multinukleus dengan atau tanpa badan inklusi intraseluler, merupakan gambaran yang dapat ditemukan pada infeksi virus

DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
Nyeri b.d proses peradangan
Intervensi :
Kaji tingkat nyeri
R/ mengetahui tingkat nyeri untuk memudahkan intervensi selanjutnya
Jelaskan penyebab nyeri
R/ untuk menambah pengetahuan pasien
Kompres mata dengan air hangat
R/ untuk mengurangi rasa nyeri
Mata istirahatkan
R/ menurunkan radang, mengurangi aktivitas
Kolaborasi dalam pemberian obat mata (AB)
R/ menghilangkan peradangan
Gangguan pola tidur b.d nyeri
Intervensi :
Ciptakan lingkungan yang tenang
R/ Klien dapat beristirahat
Kurangi rasa nyeri dengan mengompres mata
R/ Klien dapat beristirahat
H.E kebutuhan tidur berhubungan dengan penyembuhan penyakit
R/ klien tahu tentang fungsi tidur berhubungan dengan proses penyembuhan.
Gangguan persepsi penglihatan b.d kelainan lapang pandang
Intervensi :
Kaji kemampuan melihat
R/ untuk mengetahui sejauh mana kemampuan melihat
Mengorientasikan pasien terhadap lingkungan dan aktifitas
Menjelaskan terjadinya gangguan persepsi penglihatan
R/ untuk meningkatkan pemahaman dan mengurangi ansietas pasien
Dorong pasien untuk melakukan aktivitas sederhana
Anjurkan pasien untuk memakai kacamata redup
Gangguan interaksi social ; menarik diri b.d tidak menerima kondisi matanya
Intervensi :
Jalin hubungan baik dengan klien
R/ agar klien tidak merasa asing
Jelaskan kondisi/gangguan yang terjadi pada matanya
R/ klien akan menerima keadaannya.
Libatkan dengan kegiatan lingkungan
R/ klien akan merasa punya teman dalam lingkungan.
Resiko injury b.d penurunan ketajaman penglihatan
Intervensi :
Orientasikan lingkungan dan situasi lain
R/ untuk meningkatkan pengenalan tempat sekitar
Anjurkan klien untuk mempelajari kembali ADL
R/ meningkatkan respon stimulus dan semua ketergantungannya
Anjurkan klien/keluarga meletakkan peralatan yang dibutuhkan pada tempat yang mudah dijangkau.
R/ mengurangi pecahnya alat yang dapat mencederai klien

OTITIS MEDIA

Pengertian
Otitis media adalah inflamasi pada bagian telinga tengah. Otitis media sebenarnya adalah diagnosa yang paling sering dijumpai pada anak – anak di bawah usia 15 tahun. Ada 3 ( tiga ) jenis otitis media yang paling umum ditemukan di klinik, yaitu :
Otitis Media Akut
Otitis Media Serosa (Otitis media dengan efusi)
Otitis Media Kronik
Otitis media akut adalah keadaan dimana terdapatnya cairan di dalam telinga tengah dengan tanda dan gejala infeksi.
Otitis media serosa / efusi adalah keadaan terdapatnya cairan di dalam telinga tengah tanpa adanya tanda dan gejala infeksi aktif. Secara teori, cairan ini sebagai akibat tekanan negative dalam telinga tengah yang disebabkan oleh obstruksi tuba eustachii. Pada penyakit ini, tidak ada agen penyebab definitive yang telah diidentifikasi, meskipun otitis media dengan efusi lebih banyak terdapat pada anak yang telah sembuh dari otitis media akut dan biasanya dikenal dengan “glue ear”. Bila terjadi pada orang dewasa, penyebab lain yang mendasari terjadinya disfungsi tuba eustachii harus dicari. Efusi telinga tengah sering terlihat pada pasien setelah mengalami radioterapi dan barotrauma ( eg : penyelam ) dan pada pasien dengan disfungsi tuba eustachii akibat infeksi atau alergi saluran napas atas yang terjadi.
Otitis media kronik sendiri adalah kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. Sering berhubungan dengan perforasi menetap membrane timpani. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkan kerusakan membrane timpani tetapi juga dapat menghancurkan osikulus dan hampir selalu melibatkan mastoid. Sebelum penemuan antibiotic, infeksi mastoid merupakan infeksi yang mengancam jiwa. Sekarang, penggunaan antibiotic yang bijaksana pada otitis media akut telah menyebabkan mastoiditis koalesens akut menjadi jarang. Kebanyakan kasus mastoiditis akut sekarang ditemukan pada pasien yang tidak mendapatkan perawatan telinga yang memadai dan mengalami infeksi telinga yang tak ditangani. Mastoiditis kronik lebih sering, dan beberapa dari infeksi kronik ini, dapat mengakibatkan pembentukan kolesteatoma, yang merupakan pertumbuhan kulit ke dalam ( epitel skuamosa ) dari lapisan luar membrane timpani ke telinga tengah. Kulit dari membrane timpani lateral membentuk kantong luar, yang akan berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. Kantong dapat melekat ke struktur telinga tengah dan mastoid. Bila tidak ditangani, kolesteatoma dapat tumbuh terus dan menyebabkan paralysis nervus fasialis ( N. Cranial VII ), kehilangan pendengaran sensorineural dan/ atau gangguan keseimbangan (akibat erosi telinga dalam) dan abses otak.

Etiologi
Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, inflamasi jaringan disekitarnya (eg : sinusitis, hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( eg : rhinitis alergika). Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae, Hemophylus influenzae, Streptococcus pyogenes, dan Moraxella catarrhalis.

Patofisiologi
Pada gangguan ini biasanya terjadi disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran nafas atas, sehingga timbul tekanan negative di telinga tengah. Sebaliknya, terdapat gangguan drainase cairan telinga tengah dan kemungkinan refluks sekresi esophagus ke daerah ini yang secara normal bersifat steril. Cara masuk bakteri pada kebanyakan pasien kemungkinan melalui tuba eustachii akibat kontaminasi secret dalam nasofaring. Bakteri juga dapat masuk telinga tengah bila ada perforasi membran tymphani. Eksudat purulen biasanya ada dalam telinga tengah dan mengakibatkan kehilangan pendengaran konduktif.

Manifestasi Klinis
Otitis Media Akut
Gejala otitis media dapat bervariasi menurut beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan sementara atau sangat berat. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa.
Membrane tymphani merah, sering menggelembung tanpa tonjolan tulang yang dapat dilihat, tidak bergerak pada otoskopi pneumatic ( pemberian tekanan positif atau negative pada telinga tengah dengan insulator balon yang dikaitkan ke otoskop ), dapat mengalami perforasi.
Otorrhea, bila terjadi rupture membrane tymphani
Keluhan nyeri telinga ( otalgia )
Demam
Anoreksia
Limfadenopati servikal anterior
Otitis Media Serosa
Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran, rasa penuh atau gatal dalam telinga atau perasaan bendungan, atau bahkan suara letup atau berderik, yang terjadi ketika tuba eustachii berusaha membuka. Membrane tymphani tampak kusam (warna kuning redup sampai abu-abu pada otoskopi pneumatik, dan dapat terlihat gelembung udara dalam telinga tengah. Audiogram biasanya menunjukkan adanya kehilangan pendengaran konduktif.
Otitis Media Kronik
Gejala dapat minimal, dengan berbagai derajat kehilangan pendengaran dan terdapat otorrhea intermitten atau persisten yang berbau busuk. Biasanya tidak ada nyeri kecuali pada kasus mastoiditis akut, dimana daerah post aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan edema. Kolesteatoma, sendiri biasanya tidak menyebabkan nyeri. Evaluasi otoskopik membrane timpani memperlihatkan adanya perforasi, dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih di belakang membrane timpani atau keluar ke kanalis eksterna melalui lubang perforasi. Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi. Hasil audiometric pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran konduktif atau campuran.

Pemeriksaan Diagnostik
1.Otoscope untuk melakukan auskultasi pada bagian telinga luar
2.Timpanogram untuk mengukur keseuaian dan kekakuan membrane timpani
3.Kultur dan uji sensitifitas ; dilakukan bila dilakukan timpanosentesis (Aspirasi jarum dari telinga tengah melalui membrane timpani).

Penatalaksanaan Medis
Hasil penatalaksanaan otitis media bergantung pada efektifitas terapi ( e.g : dosis antibiotika oral yang diresepkan dan durasi terapi ), virulensi bakteri, dan status fisik klien
Antibiotik dapat digunakan untuk otitis media akut. Pilihan pertama adalah Amoksisilin; pilihan kedua – digunakan bila diperkirakan organismenya resisten terhadap amoksisilin – adalah amoksisilin dengan klavulanat (Augmentin ; sefalosporin generasi kedua), atau trimetoprin sulfametoksazol. Pada klien yang alergi penisilin, dapat diberikan eritronmisin dan sulfonamide atau trimetoprim – sulfa.
Untuk otitis media serosa ( otitis media dengan efusi ), terapi yang umum dilakukan adalah menunggu. Keadaan ini umumnya sembuh sendiri dalam 2 bulan.
Untuk otitis media serosa yang persisten, dianjurkan untuk melakukan miringotomi. Miringotomi adalah prosedur bedah dengan memasukkan selang penyeimbang tekanan ke dalam membrane timpani. Hal ini memungkinkan ventilasi dari telinga tengah, mengurangi tekanan negative dan memungkinkan drainase cairan. Selang itu umumnya lepas sendiri setelah 6 sampai 12 bulan. Kemungkinan komplikasinya adala atrofi membrane timpani, timpanosklerosis (parut pada membrane timpani), perforasi kronik, dan kolesteatoma.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN OTITIS MEDIA

Pengkajian
Kaji adanya perilaku nyeri verbal dan non verbal
Kaji adanya peningkatan suhu (indikasi adanya proses infeksi)
Kaji adanya pembesaran kelenjar limfe di daerah leher
Kaji status nutrisi dan keadekuatan asupan cairan berkalori
Kaji kemungkinan tuli.

Diagnosa Keperawatan
Nyeri R/t Inflamasi pada jaringan telinga tengah
Perubahan Sensori – Persepsi ; Auditorius R/t Gangguan penghantaran bunyi pada organ pendengaran
Gangguan Body Image R/t paralysis nervus fasialis ; facial palsy
Ancietas R/t Prosedur pembedahan ; Miringopalsty / mastoidektomi

Intervensi Keperawatan
Nyeri R/t proses inflamasi pada jaringan telinga tengah
Tujuan : Penurunan rasa nyeri
Intervensi :
Kaji tingkat intensitas klien & mekanisme koping klien
Berikan analgetik sesuai indikasi
Alihkan perhatian klien dengan menggunakan teknik – teknik relaksasi : distraksi, imajinasi terbimbing, touching, dll

perubahan sensori – persepsi ; Auditorius R/t Gangguan penghantaran bunyi pada organ pendengaran.
Tujuan : memperbaiki komunikasi
Intervensi :
mengurangi kegaduhan pada lingkungan klien
Memandang klien ketika sedang berbicara
Berbicara jelas dan tegas pada klien tanpa perlu berteriak
Memberikan pencahayaan yang memadai bila klien bergantung pada gerab bibir
Menggunakan tanda – tanda nonverbal ( mis. Ekspresi wajah, menunjuk, atau gerakan tubuh ) dan bentuk komunikasi lainnya.
Instruksikan kepada keluarga atau orang terdekat klien tentang bagaimana teknik komunikasi yang efektif sehingga mereka dapat saling berinteraksi dengan klien
Bila klien menginginkan dapat digunakan alat bantu pendengaran.

Gangguan Body Image R/t paralysis nervus fasialis
Kaji tingkat kecemasan dan mekanisme koping klien terlebih dahulu
Beritahukan pada klien kemungkinan terjadinya fasial palsy akibat tindak lanjut dari penyakit tersebut
Informasikan bahwa keadaan ini biasanya hanya bersifat sementara dan akan hilang dengan pengobatan yang teratur dan rutin.

Ancietas R/t prosedur pembedahan ; miringoplasty / mastoidektomi.
Kaji tingkat kecemasan klien dan anjurkan klien untuk mengungkapkan kecemasan serta keprihatinannya mengenai pembedahan.
Informasi mengenai pembedahan dan lingkungan ruang operasi penting untuk diketahui klien sebelum pembedahan
Mendiskusikan harapan pasca operatif dapat membantu mengurangi ansietas mengenai hal – hal yang tidak diketahui klien.

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily L., Buku Saku Keperawatan Pediatri, edisi 3, Jakarta, EGC, 2002

Dudley, H.A.F., Hamilton Bailey Ilmu Bedah Gawat Darurat, Edisi 11, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1992.

Ludman, Harold, MB, FRCS, Petunjuk Penting pada Penyakit THT, Jakarta, Hipokrates, 1996

Smeltzer, Suzanne C., Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, Jakarta, EGC, 2001.

OTITIS EKSTERNA

PENDAHULUAN
Otitis eksterna dihubungkan dgn maserasi saluran kulit akibat gesekan dengan alat dan hilangnya perlindungan dari lapisan lemak dimana lemak tsb berfungsi sebagai pelembab. Bakteri dapat masuk melalui sobekan tipis epitel, plorierasi dan mengakibatka pembengkakan pada lapisan saluran telinga.
Otitis eksterna adalah salah satu jenis dari infeksi telinga yang mengenai saluran telinga. Karena saluran telinga gelap dan hangat maa dapat dengan mudah terkena in bakteri atau jamur. Dua karakteristik gejala dari otitis eksterna adalah otalgia atau nyeri didalam telinga dan otorhea atai inflamasi telinga disertai adanya pengeluaran cairan. Otalgia dapat berawal dr pruritis sampai pada rasa nyeri yg hebat dan dpt diperburuk dgn adanya gerakan pada telinga seperti mengunyah. Pasien dapat mengeluh kehilangan pendengaran jika terjadi pembengkakan akibat peradangan yang menyumbat saluran telinga bagian luar.
Otorhea dan kotoran lain dapat menyumbat saluran telinga. Otorhea juga membuat saluran telinga menjadi lembab dan tercampur dgn pengobatan topical. Peradangan sering membuat saluran telinga mudah terkena trauma dari biasanya. Oleh karena itu penggunaaan sendok serumen atau kuret seharusnya dihindari. Pembersihan yg terbaik adalah dengan sunction dan menggunakan otoskop. Alternative lain untuk membersihkan telinga adalah dgn menggunakan kapas untuk mengeluarkan secara perlahan-lahan secret tebal dari saluran telinga luar. Jika secret tipis, keras atau lengket maka pemberian antibiotic atau hydrogen peroksida dapat menolong untuk melembutkan secret tsb agar mudah dikeluarkan. Dapat juga diberikan alcohol sesudahnya untuk membersihkan saluran, tetapi hal ini mungkin menyebabkan iritasi jika saluran telah mengalami peradangan. Pasien harus dievaluasi kembali apabila secret susah untuk dikeluarkan akibat adanya pembengkakan atau nyeri.
Melalui pemeriksaan kepala dan leher dapat dibentuk diagnosa dan dapat dilihat adanya kemungkinan kmplikasi dari otitis eksterna. Pemeriksaan tsb mencakup evaluasi pada sinus, hidung, mastoid, mulut, parinx dan leher.

ETIOLOGI
Penyebab umum dari otitis eksterna adalah infeksi bakteri meskipun jamur adalah penyebab yang terpenting dari 10% kasus; dapat pula dihasilkan dari non ineksi dermatologi.
Bacterial Otitis Externa
Menyukai semua kulit. Saluran telinga luar mempunyai flora normal. Ketika terjadi ggn, flora pathogen berkembang didominasi oleh Pseudomonas aeruginosa dan Stapilococcus aureus. Tanda dan gejala dari otitis eksterna dengan penyebab bakteri dirawat lebih giat dari penyakit lain. Otalgia mungkin cukup berat, untuk itu diberikan anlgetik seperti Codein dan obat anti inflamasi non steroid.

Jamur Otitis Externa
Jamur dikenal kira-kira 10% dari kasus otitis externa. Pathogen yg terbesar dan umum adalah Aspergillus dan Candida. Infeksi jamur terjadi sebagai hasil dari pengobatan yang lama dari bakteri otitis eksterna yang menggantikan flora dari saluran telinga. Jamur kadang-kadang pathogen utama pada otitis externa, khususnya dgn adanya lembab yg berlebihan atau panas. Ineksi biasanya tidak bergejala dan diagnosa dibuat dengan mengamati perubahan dalam saluran telinga luar. Jamur dpt menyebabkan pruritis dan rasa penuh pada telinga. Pruritis mungkin hebat, menyebabkan kerusakan pada epidermis akibat garukan. Tinnitus juga umum terjadi.

MANIFESTASI KLINIK
Pasien biasanya datang dgn nyeri, cairan dari kanalis auditorius externa, nyeri tekan aural (biasanya tidak terdapat pada inf telinga tengah), dan kadang demam, selulitis dan limfadenopati. Kleuhan lain dapat meliputi pruritus dan kehilangan pendengaran atau perasaan penuh. Pada pemeriksan otoskopis, kanalis telinga nampak eritema dan edema. Cairan berwarna kuning atau hijau dan berbau busuk. Pada infeksi jamur bahkan dapat terlihat spora hitam seperti rambut.

EVALUASI DIAGNOSTIK
CT-Scan tulang tengkorak — mastoid terlihat kabur, ada kerusakan tulang
Scan Galium-67 — terlihat focus inf akut yg akan kembali normal dgn resolusi inf.
Scan Tekhnetium-99 — terlihat aktifitas osteoblastik yg akan kembali normal beberapa bulan setelah resolusi klinik
MRI — monitor serebral, pembuluh darah yang terkait
Tes Laboratorium — sample nanah untuk kultur dan tes sensitivitas antibiotic

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.Gangguan sensori persepsi : pendengaran b/d banyaknya kotoran telinga, cairan atu benda asing
Tujuan : memperbaiki fx pendengaran
Intervensi :
Mengambil serumen dgn irigasi, sunction atau instrumentasi
R/ usaha lain untuk membersihkan kanalis auditorius externa seperti dgn korek api, jepit rambut atau alat lain dapat membahayakan klien
Memberikan antibiotic/hydrogen peroksida
R/ dapat melembutkan serumen yg akan dikeluarkan.
2.Nyeri b/d proses inflamasi
Tujuan : mengurangi nyeri
Intervensi :
Kaji tingkat nyeri ssi skala nyeri
R/ memberi info untuk mengkaji respon terhadap intervensi
Kai dan catat respon pasien terhadap intervensi
R/ membantu dalam memberi intervensi selanjutnya

Kolaborasi beri preparat analgetik
R/ mengurangi nyeri
Memasang sumbu bila kanalis auditorius mengalami edema
R/ untuk menjaga kanalis tetap terbuka
3.Kegagalan interaksi sosial b/d hambatan komunikasi
Tujuan : membantu pasien berinteraksi
Intervensi :
Berikan alat Bantu pendengaran
R/ untuk membantu pendengaran klien
Ajari klien menggunakan tanda nonverbal dan bentuk komunikasi lainnya
R/ merupakan alternative lain untuk mempermudah komunikasi dgn orla
Ajari keluarga atau orang terdekat praktik komunikasi yang eektif
R/ mampu berkomunikasi yg baik dgn klien
Mengurangi kegaduhan lingkungan
R/ ketenangan lingkungan dapat membantu kelancaran komunikasi.
4.Ansietas b/d kurang pengetahuan ttg penyakit, penyebab infeksi dan tindakan pencegahannya
Tujuan : mengurangi ansietas
Intervensi :
Dengarkan dgn cermat apa yg dikatakan klien tentang penyakit dan tindakannya
R/ mendengar memungkinkan deteksi dan koreksi mengenai kesalahpahaman dan kesalahan informasi
Berikan penjelasan singkat ttg organisme penyebab; sasarn penaganan; jadwal tindak lanjut; dan pencegahan penularan thd orang lain
R/ pengetahuan ttg diagnosa spesifik dan tindakan dapat meningkatkan kepatuhan
Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya dan berdiskusi
R/ pertanyaan klien menandakan masalah yg perlu diklarifikasi

GLAUKOMA

PENGERTIAN
Glukoma adalah suatu keadaan pada mata dimana terjadi peningkatan tekanan intraokuler yg bila cukup lama dan tekanannya cukup tinggi dapat menyebabkan kerusakan anatomis dan fungsional.

ETIOLOGI
Untuk glukoma tidak ada penyebab yang spesifik, namun ada bberapa actor resiko yang dapat mengarah pada glukoma, anatara lain :
Tekanan darah tinggi
Usia > 45 tahun
Keluarga mempunyai riwayat glukoma

PATOFISIOLOGI
Cairan bilik mata yang dihasilkan oleh epitel badan siliar akan masuk ke dalam bilik mata belakang dan berjalan melalui pupil ke bilik mata depan. Cairan bilik mata keluar dari bola mata melalui anyaman traberkulum dlm kanal Sclhemm yang terletak disudut bilik mata. Dari kanal Schlemm yang melingkar di sekeliling sudut bilik mata cairan mata keluar melalui kanal kolektor dan masuk kedalam pembuluh darah vena episklera. Tekanan intra okuler akan naik bila :
Badan siliar memproduksi terlalu banyak cairan mata sedang pengeluarannya pd anyaman traberkulum normal (glukoma hipersekresi)
Hambatan pengaliran pd pupil waktu pengaliran cairan dr bilik mata belakang ke bilik mata depan
Pengeluara di sudut bilik mata terganggu
Jadi bola mata yang dimasuki air terlallu banyak tdk akan meledak tetapi akan menggelembung didaerah yang paling lemah pd papil (mangkok) optic atau pd sclera tmp saraf optic keluar. Bila tekanan bola mata naik, serabut saraf akan tertekan dan rusak serta mati. Kematian sel akan mengakibatkan hilangnya penglihatan yang permanen.

KLASIFIKASI GLUKOMA
Glukoma primer
Dimana penyebabnya tdk diketahui, dibagi atas dua bentuk :
Glukoma sudut terbuka (glukoma kronik)
Gukoma sudut tertutup (glukoma sudut sempit)
Glukoma sekunder
Timbul akibat kelainan dlm bola mata yang dpt disebabkan oleh:
Kelainan lensa, katarak imatur dan hipermatur, dan dislokasi lensa
Kelainan uvea, uveitis anterior
Trauma, hifemia dan inkarserasi iris
Pasca bedah, blockade pupil, goniosinekia

Glukoma congenital
Congenital primer, dng kelainan kongenital lain
Infantile, tanpa kelainan congenital lain

MANIFESTASI KLINIK
Ada keluha penglihatan kabur/ tdk jelas
Rasa sakit kepala bisa sampai berat
Rasa mual dan muntah

PENATALAKSANAAN MEDIK
Pemeriksaan diagnostic :
Tonometri untuk mengukur tekanan bola mata
Perimetri untuk pemeriksaan lapang pandang
Gonioskopi untuk melihat sudut bilik mata
Oftalmoskopi untuk memeriksa saraf optic

PENGKAJIAN
Anamnesis
Apakah ada keluarga yang menderita glukoma
Riwayat medis dan pribadi (biodata pasien termasuk usia)
Pemeriksaan fisik
Neurosensori
Ada gangguan penglihatan/ kabur
Tampak lingkaran cahaya/ pelangi sekitar sinar
Kehilangan penglihatan perifer
Fotofobia
Pupil menyempit dan merah
Mata keras dgn kornea berawan
Ada peningkatan air mata
Makanan cairan
Ada mual dan muntah
Nyeri/ kenyamanan
Nyeri tiba-tiba / menetap atau tekanan pd dan sekitar mata, sakit kepala

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.Gangguan persepsi sensori : penglihatan b/d penurunan ketajaman lapang penglihatan
Tujuan : pasien dpt mempertahankan lapang penglihatan tanpa kehilangan
lebih lanjut
Intervensi :
Pastikan derajat/ tipe kehilangan penglihatan
R/ mempengaruhi harapan masa depan pasien dan pilihan intervensi

Dorong ekspresi perasaan ttg kehilangan/ kemungkinan kehilangan penglihatan
R/ sementara intervensi dini mencegah kebutaan, pasien menghadapi kemungkinan/ mengalami pengalaman kehilangan penglihatan sebagian atau total
Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, mengikuti jadwal, tdk salah dosis
R/ mengontrol TIO, mencegah kehilangan penglihatan lanjut
Lakukan tindakan untuk membantu pasien mengalami keterbatasan penglihatan, seperti kurangi kekacauan, atur perabot, ingatka memutar kepala ke subjek yang terlihat, perbaiki sinar suram dan masalah penglihatan malam
R/ menurunkan bahaya keamanan b/d perubahan lapang pandang atau kehilangan penglihatan dan akomodasi pupil thd sinar lingkungan
Kolaborasi obat sesuai indikasi, contoh Pilokarpin Hidroklorida
R/ obat miotik topical ini menyebabkan konstriksi pupil, memudahkan keluarnya akueus humor
Kolaborasi bedah sesuai indikasi, contoh Siklodialisis
R/ memisahkan badan siliar dr sclera untuk memudahkan aliran keluar akueus humor.
2.Ansietas b/d perubahan status kesehatan
Tujuan : pasien menunjukan tingkat kecemasan menurun
Intervensi :
Kaji tingkat ansietas, derajat pengalaman nyeri atau timbulnya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat ini
R/ factor ini mempengaruhi persepsi pasien terhadap ancaman diri, potensial siklus insietas, dan dapat mempengaruhi upaya medik untuk mengontrol TIO
Berikan info yang akurat dan jujur
R/ menurunkan ansiets b/d ketidak tahuan / harapan yang akan datang dan memberikan dasar fakta untuk membuat pilihan info ttg pengobatan
Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan
R/ memberi kesempatan pasien menerima situasi nyata, mengklarifikasi salah konsepsi dan pemecahan masalah
Identifikasi sumber pendukung
R/ memberikan keyakinan bhw pasien tdk sendiri dlm menghadapi masalah.
3.Kurang pengetahuan b/d kurang memahami kondisi, prognosis dan pengobatan
Tujuan : pasien menyatakan pemahamannya ttg kondisi, prognosis dan
Pengobatan
Intervensi :
Tunjukan teknik yang benar untuk pemberian tetes mata, dan izinkan pasien mengulang tindakan
R/ meningkatkan keefektifan pengobatan. Memberikan kesempatan pasien menunjukan kompetensi dan menanyakan pertanyaan
Kaji pentingnya mempertahankan jadwal obat, diskusikan obat yang harus dihindari dan kelebihan pemakaian steroid topical
R/ penyakit ini dapat di control dan mempertahankan konsistensi program obat adalah control vital. Beberapa obat menyebabkan dilatasi pupil, peningkatan TIO dan potensial kehilangan penglihatan tambahan
Identifikasi efek samping pengobatan
R/ dapat mempengaruhi rentang dari ketidak nyamanan sampai ancaman kesehatan berat
Dorong pasien membuat perubahan yang perlu untuk pola hidup
R/ pola hidup tenang menurunkan respon emosi thd stres, mencegah perubahan okuler yang mendorong iris kedepan, yang dpt mencetuskan serangan akut
Dorong menghindari aktifitas berat
R/ dpt meningkatkan TIO yang mencetuskan serangan akut
Diskusikan pertimbangan diet, spt makanan berserat
R/ mempertahankan konsistensi feses untuk menghindari konstipasi
Tekankan pentingnya periksa rutin
R/ untuk mengawasi kemajuan penyakit dan memungkinkan intervensi dini dan mencegah kehilangan penglihatan lanjut .

GLAUKOMA

A.Glaukoma.
Glaukoma adalah suatu gejala dari kumpulan penyakit yang menyebabkan suatu resultan yakni meningginya tekanan intra okuler yang cukup untuk menyebabkan degenerasi optic disk atau kelainan dalam lapangan pandang.

B.Etiologi.
a.Keturunan dalam keluarga.
b.Diabetes mellitus.
c.Arteriosklerosis
d.Pemakaian kortikosteroid dalam waktu yang lama.
e.Myopia tinggi dan progresif.

C.Klasifikasi Glaukoma.
Vaughan (1919) membuat klasifikasi glaukoma sebagai berikut :
1.Glaukoma primer
Glaukoma primer sudut terbuka (simple glaucoma) adalah yang paling sering ditemukan.
Glaukoma primer sudut tertutup (narrow angle glaucoma) ditemukan dlam bentuk akut, sub akut dan kronik.
2.Glaukoma sekunder
Disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam lensa, traktus uvealis, trauma.
Komplikasi dari salah satu operatif mata.
Berhubungan dengan rubeosis (DM)
Penggunaan kortikosteroid topikal.
Sebab yang lain jarang.
3.Glaukoma congenital.
Glaukoma kongeniotal primer (infantile) bleftalmus atau hidroftalmus.
Glaaukoma yang menyertai kelainan-kelainan congenital.
4.Glaucoma absolute.
Hasil akhir dari suatu glaucoma yang tidak terkontrol yaitu mengerasnya bola mata, berkurangnya penglihatan sampai dengan nol, dan rasanyeri. Glaucoma absolute merupakan keadan terakhir dari semua macam glaucoma dimana ketajaman penglihatan sudah menjadi nol, rata-rata terjadi setelah satu atau dua tahun serangan pertama glaucoma apabila tidak mendapat pengobata, tidak dioperasi, salah diagnosis, salah penanganan atau tekanan intra okuler dibiarkan meninggi.

D.Manifestasi Klinik
Umumnya dari riwayat keluarga ditemukan anggota keluarga dalam garis vertical atau horizontal memiliki penyakit serupa, penyakit ini berkembang secara perlahan namun pasti, penampilan bola mata seperti normal dan sebagian besar tidak menampakan kelainan selama stadium dini. Pada stadium lanjut keluhan klien yang mincul adalah sering menabrak akibat pandangan yang menjadi jelek atau lebih kabur, lapangan pandang menjdi lebih sempit hingga kebutaan secara permanen. Gejala yang lain adalah :
Mata mera dan sakit tanpa kotoran.
Kornea suram.
Diserttai sakit kepala hebat terkadang sampai muntah.
Kemunduran penglihatan yang berkurang cepat.
Nyeri di mata dan sekitarnya.
Udema kornea.
Pupil lebar dan refleks berkurang sampai hilang.
Lensa keruh.

E.Pemeriksaan Diagnostic.
1.Oftalmoskopi : Untuk melihat fundus bagian mata dalam yaitu retina, discus optikus macula dan pembuluh darah retina.
2.Tonometri : Adalah alat untuk mengukurtekanan intra okuler, nilai mencurigakan apabila berkisar antara 21-25 mmhg dan dianggap patologi bila melebihi 25 mmhg.
3.Pemeriksaan lampu-slit.
Lampu-slit digunakan unutk mengevaluasi oftalmik yaitu memperbesar kornea, sclera dan kornea inferior sehingga memberikan pandangan oblik kedalam tuberkulum dengan lensa khusus.
4.Pemeriksaan Ultrasonografi..
Ultrasonografi dalai gelombang suara yang dapat digunakan unutk mengukur dimensi dan struktur okuler. Ada dua tipe ultrasonografi yaitu :
A-Scan-Ultrasan.
Berguna untuk membedakan tumor maligna dan benigna, mengukur mata untuk pemsangan implant lensa okuler dan memantau adanya glaucoma congenital.
B-Scan-Ultrasan.
Berguana unutk mendeteksi dan mencari bagian struktur dalam mata yang kurang jelas akibat adanya katarak dan abnormalitas lain.

F. Penatalaksanaan.
Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan TIO ke tingkat yang konsisten dengan mempertahankan penglihatan, penatalaksanaan berbeda-beda tergantung klasifikasi penyakit dan respons terhadap terapi.
a.Terapi obat.
Aseta Zolamit (diamox, glaupakx) 500 mg oral.
Pilokarpin Hcl 2-6 % 1 tts / jam.
b.Bedah lazer.
Penembakan lazer untuk memperbaiki aliran humor aqueus dan menurunkan tio.
c.Bedah konfensional.
Iredektomi perifer atau lateral dilakukan untuk mengangkat sebagian iris unutk memungkinkan aliran humor aqueus Dari kornea posterior ke anterior.
Trabekulektomi (prosedur filtrasi) dilakukan untuk menciptakan saluran balu melalui sclera.

Daftar Pustaka.
1. Brunner and suddart, Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, vol. 3, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran , EGC, 2002.
2. Marylin E. Doengus, Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 8, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran , EGC, 2002.
3. Agus Purwadianto, Pedoman Pelksanaan Praktis Kedaduratan Medik, edisi 2, Jakarta : Penerbit Panitia Luluisan Reguler Universitas Indonesia, 2002.
4. Ditjen Binkesnas Depkes RI, Buku Pedoman Kesehatan Mata dan Pencegahan Kebutaan Untuk Puskesmas, Jakarta, 2002.

KESIMPULAN :

Klien Ny. S, umur 60 tahun, masuk RS sejak tanggal 12 – 4 – 2005, dilakukan pengkajian tanggal 25 April 2005 dengan keluhan utama mata kanan klien kabur, dan kemerahan, sakit kepala dan sakit pada rongga mata serta keluar air mata yang berlebih. Dengan diagnosa medik : Glaukoma.

Pada saat pengkajian ditemukan data – data sebagai berikut :
Tidak ada perubahan dalam pola nutrisi, eliminasi. Setelah mata kiri klien kabur klien sudah tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasa, TD : 120/80 mmHg; N : 72 x / menit; S : 36,5 o C; P : 24 x / menit. Klien merasa kuatir dan mengeluhkan sakit kepala dan daerah rongga mata, klien tampak meringis, Mata : Ukuran pupil : OD : unround, OS: 2-3 mm, anisokor. Refleks terhadap cahaya: OD: (-) OS : (+), Visus OD: 0; OS : 5/60. bentuk simetris, conjungtiva OS : tidak anemis, OD : Hyperemis. TOD : 1/5,5 atau 3/10 = 50,6 mmhg, TOS : 4/5,5 = 20,6 mmhg. Tidak ada masalah dengan mulut dan tenggorokan. Dada, paru, jantung, sirkulasi, abdomen dan ekstremitas.

Hasil Lab : 25 April 2005
TTGO : 82 mg/dL
GD 2 Jam : 99 mg/dL
Ureum darah : 41,9 mg/dL
Kreatinin darah : 0,55 mg/dL
SGOT : 15 mg/dL
SGPT : 13 mg/dL
Colesterol total : 128 mg/dL
HDL : 33 mg/dL
LDL : 75 mg/dL
Trigliserida : 221 mg/dL

Terapi :
C Timolol 0,5 2 x 1 tts OD
Glapen 1 x 1 tts OD.
Glaucon 3 x 1 500 mg
As. Mefanamat 3 x 500 mg

Berdasarkan pengkajian diagnosa keperawatan didapat:
1.Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intra okuler.
2.Anxietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
2.Gangguan persepsi sensorik: penglihatan berhubungan dengan penurunan fungsi organ visual.

KATARAK

A. PENGERTIAN
Katarak merupakan keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa di dalam kapsul mata. Katarak adalah suatu keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu. Katarak dapat terjadi pada saat perkembangan serat lensa masih berlangsung atau sesudah serat lensa berhenti dalam perkembangannya dan telah memulai proses degenerasi.
Katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan berikut :
1.Katarak perkembangan (developmental) dan degeneratif,
2.Katarak congenital, juvenil, dan senile
3.Katarak komplikata
4.Katarak traumatic
Penyebab terjadinya kekeruhan lensa ini dapat :
1.Primer, berdasarkan gangguan perkembangan dan metabolisme dasar
2.Sekunder, akibat tindakan Pembedahan lensa
3.Komplikasi penyakit lokal ataupun umum
Berdasarkan usia pasien, katarak dapat dibagi dalam :
Katarak congenital, katarak yang terlihat pada usia dibawah 1 tahun
Katarak juvenil, katarak yang terlihat pada usia di atas 1 tahun dan di bawah 40 tahun.
Katarak presenil, yaitu katarak sesudah usia 30-40 tahun
Katarak senile, yaitu katarak yang mulai terjadi pada usia lebih dari 40 tahun.

B. ETIOLOGI
Penyebab utama katarak adalah proses penuaan . Anak dapat menderita katarak yang biasanya merupakan penyakit yng diturunkan, peradangan di dalam kehamilan, keadaan ini disebut sebagai katarak congenital.
Berbagai faktor dapat mengakibatkan tumbuhnya katarak lebih cepat. Faktor lain dapat mempengaruhi kecepatan berkembangnya kekeruhan lensa seperti DM, dan obat tertentu, sinar ultraviolet B dari cahaya matahari, efek racun dari rokok, dan alkoho, gizi kurang vitamin E, dan radang menahan di dalam bola mata. Obat yang dipergunakan untuk penyakit tertentu dapat mempercepat timbulnya katarak seperti betametason, klorokuin, klorpromazin, kortizon, ergotamin, indometasin, medrison, pilokarpin dan beberapa obat lainnya.
Penyakit infeksi tertentu dan penyakit seperti DM, dapat mengakibatkan timbulnya kekeruhan lensa yang akan menimbulkan katarak komplikata.
Cedera mata dapat mengenai semua umur seperti pukulan keras, tusukan benda, terpotong, panas yang tinggi, bahan Kimia, dapat merusak lensa mata dan keadaan ini di sebut sebagai katarak traumatic.

C. PATOFISIOLOGI
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleuas, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambah usia, nucleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nucleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna namapak seperti kristal salju pada jendela.
Perubahan fisik dan Kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi, perubahan pada serabut halus multiple (zunula) yang memanjang daari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa Misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan Kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi. Sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia darn tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.
Katarak biasanya terjadi bilateral, namun mempunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistematis, seperti DM, namun sebenarnya merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan matang ketika orang memasuki decade ke tujuh. Katarak dapat bersifat congenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak didiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering yang berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet B, obat-obatan, alcohol, merokok, DM, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu lama.

D. MANIFESTASI KLINIS DAN DIAGNOSIS
Katarak didiagnosisterutama dengan gejala subjektif. Biasanyaaa, pasien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau dan gangguan fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan karena kehilangan penglihatan tadi. Temuan objektif biasanya meliputi pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak pada oftalmoskop.
Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan kabur atau redup, menyilaukan yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di mlam hari. Pupil yang normalnya hitam akan tampak kekuningan abu-abu atau putih. Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahun-tahun dan ketika katarak sudah sangat memburuk lensa koreksi yang lebih kuat pun tak akan mampu memperbaiki penglihatan. Bisa melihat dekat pada pasien rabun dekat (hipermetropia), dan juga penglihatan perlahan-lahan berkurang dan tanpa rasa sakit.
Orang dengan katarak secara khas selalu mengembangkan strategi untuk menghindari silau yang menjengkelkan yang disebabkan oleh cahaya yang salah arah. Misalnya ada yang mengatur ulang perabot rumahnya sehingga sinar tidak akan langsung menyinari mata mereka. Ada yang mengenakan topi berkelapak lebar atau kacamata hitam dan menurunkan pelindung cahaya saat mengendarai mobil pada siang hari.
Seorang dokter mata akan memeriksa mata dengan berbagai alat untuk menentukan tipe, besar dan letaknya kekeruhan pada bagian lensa. Bagian dalam dari mata diperiksa dengan alat oftalmoskop, untuk menentukan apakah ada kelainan lain di mata yang mungkin juga merupakan penyebab berkurangnya pengliahatan.
Bila diketahui adanya gejala di atas sebaiknya segera diminta pendapat seorang dokter mata. Secara umum seseorang yang telah berusia 40 tahun sebaiknya mendapatkan pemeriksaan mata setiap 1 tahun.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.Ketakutan atau ansietas berhubungan kurangnya pengetahuan.
Tujuan :
1.Menurunkan stres emosional, ketakutan dan depresi.
2.Penerimaan pembedahan dan pemahaman instruksi.
Intervensi :
1.Kaji derajat dan durasi gangguan visual. Dorong percakapan untuk mengetahui keprihatinan pasien, perasaan, dan tingkat pemahaman.
Rasional : Informasi dapat menghilangkan ketakutan yang tidak diketahui. Mekanisme koping dapat membantu pasien berkompromi dengan kegusara, ketakutan, depresi, tegang, keputusasaan, kemarahan, dan penolakan.
2.Orientasikan pasien pada lingkungan yang baru.
Rasional : Pengenalan terhadap lingkungan membantu mengurangi ansietas dan meningkatkan keamanan.

3.Menjelaskan rutinitas perioperatif.
Rasional : Pasien yang telah banyak mendapat informasi lebih mudah menerima penanganan dan mematuhi instruksi.
4.Menjelaskan intervensi sedetil-detilnya.
Rasional : Pasien yang mengalami gangguan visual bergantung pada masukan indera yang lain untik mendapatkan informasi.
5.Dorong untuk menjalankan kebiasaan hidup sehari-hari bila mampu.
Rasional : Perawatan diri dan kemandirian akan meningkatkan rasa sehat.
6.Dorong partisipasi keluarga atau orang yang berarti dalam perawatan pasien.
Rasional : Pasien mungkin tak mampu melakukan semua tugas sehubungan dengan penanganan dari perawatan diri.
7.Dorong partisipasi dalam aktivitas sosial dan pengalihan bila memungkinkan (pengunjung, radio, rekaman audio, TV, kerajinan tangan, permainan).
Rasional : Isolasi sosial dan waktu luang yang terlalu lama dapat menimbulkan perasaan negatif.
2. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan pandangan kabur
Tujuan : Pencegahan cedera.
Intervensi :
1.Bantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi pascaoperasi sampai stabil dan mencapai penglihatan dan keterampilan koping yang memadai, menggunakan teknik bimbingan penglihatan.
Rasional : Menurunkan resiko jatuh atau cedera ketika langkah sempoyongan atau tidak mempunyai keterampilan koping untuk kerusakan penglihatan.
2.Bantu pasien menata lingkungan.
Rasional : Memanfasilitasi kemandirian dan menurunkan resiko cedera.
3.Orientasikan pasien pada ruangan.
Rasional : Meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan.
4.Bahas perlunya penggunaan perisai metal atau kaca mata bila diperintahkan
Rasional : Tameng l;ogam atau kaca mata melindungi mata terhadap cedera.
5.Jangan memberikan tekanan pada mata yang terkena trauma.
Rasional : Tekanan pada mata dapat menyebabkan kerusakan serius lebih lanjut.
6.Gunakan prosedur yang memadai ketika memberikan obat mata.
Rasional : Cedera dapat terjadi bila wadah obat menyentuh mata.
3.Nyeri berhubungan dengan trauma insisi dan peningkatan TIO
Tujuan : Pengurangan nyeri dan TIO.
Intervensi :
1.Berikan obat untuk mengontrol nyeri dan TIO sesuai resep.
Rasional : Pemakaian sesuai resep akan Mengurangi nyeri dan TIO dan meningkatkan rasa nyaman.
2.Berikan kompres dingin sesuai permintaan untuk trauma tumpul.
Rasional : mengurangi edema akan mengurangi nyeri.
3.Kurangi tingkat pencayahaan
Rasional : Tingkat Pencahayaan yang lebih rendah lebih nyakan setelah Pembedahan.
4.Dorong penggunaan kaca mata hitam pada cahaya kuat.
Rasioanal : Cahaya yang kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah penggunaan tetes mata dilator.
4. Potensial terhadap kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan.
Tujuan : mampu memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Inventensi :
1.Beri instruksi kepada pasien atau orang terdekat mengenal tanda atau gejala komplikasi yang harus dilaporkan segera kepada dokter.
Rasional : Penemuan dan penanganan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kerusakan lebih lanjut.
2.Berikan instruksi lisan dan tertulis untuk pasien dan orang yang berati mengenal teknik yang benar memberikan obat.
Rasional : Pemakaian teknik yang benar akan mengurangi resiko infeksi dan cedera mata.

3.Evaluasi Perlunya bantuan setelah pemulangan.
Rasional : Sumber daya harus tersedia untuk layanan kesehatan, pendampingan dan teman di rumah.
4.Ajari pasien dan keluarga teknik panduan penglihatan.
Rasional : Memungkinkan tindakan yang aman dalam lingkungan.
5. Resiko tinggi terhadap Infeksi b.d trauma insisi
Tujuan : Komplikasi dapat dihindari atau segera dilaporkan kepada dokter.
Inventasi :
1.Jaga teknik aseptic ketat, lakukan cuci tangan sesering mungkin.
Rasional : Akan meminimalkan infeksi.
2.Awasi dan laporkan segera adanya tanda dan gejala komplikasi, misalnya : perdarahan, peningkatan TIO atau infeksi.
Rasional : Penemuan awal komplikasi dapat mengurangi resiko kehilangan penglihatan permanen.
3.Jelaskan posisi yang dianjurkan.
Rasional : Peninggian kepala dan menghindari berbaring pada sisi yang di operasi dapat mengurangi edema.
4.Instruksikan pasien mengenal pembatasan aktivitas tirah baring, dengan keleluasaan ke kamar mandi, peningkatan aktivitas bertahap sesuai toleransi.
Rasional : Pembatasan aktivitas diresepkan untuk mempercepat penyembuhan dan menghindari kerusakan lebih lanjut pada mata yang cedera.
5.Jelaskan tindakan yang harus dihindari, seperti yang diresepkan batuk, bersin, muntah (minta obat untuk itu).
Rasional : Dapat mengakibatkan komplikasi seperti prolaps vitreus atau dehisensi luka akibat peningkatan tegangan luka pada jahitan yang sangat halus.
6.Berikan obat sesuai resep, sesuai teknik yang diresepkan.
Rasional : Obat yang diberikan dengan cara yang tidak sesuai dengan resep dapat mengganggu penyembuhan atau menyebabkan komplikasi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.