WAHAM

  1. Pengertian

Menurut Gail W. Stuart, Waham adalah keyakinan yang salah dan kuat dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realitas sosial.

Waham adalah Keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak sesuai dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan.

  1. Penyebab

  1. Faktor predisposisi

  • Genetis : diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif.

  • Neurobiologis; Adanya gangguan pada korteks pre frontal dan korteks limbic

  • Neurotransmitter ; abnormalitas pada dopamine, serotonin dan glutamat.

  • Virus paparan virus influensa pada trimester III

  • Psikologis; ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli.

  1. Faktor Presipitasi

  • Proses pengolahan informasi yang berlebihan

  • Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal.

  • Adanya gejala pemicu

  1. Mekanisme Koping

Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi klien dari pengalaman yang menakutkan berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif meliputi :

  • Regresi : berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk mengatasi ansietas

  • Proyeksi : sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi

  • Menarik diri

  • Pada keluarga ; mengingkari

  1. Prilaku

  • Waham agama : keyakinan seseorang bahwa ia dipilih oleh Yang Maha Kuasa atau menjadi utusan Yang Maha Kuasa.

  • Waham somatik : keyakinan seseorang bahwa tubuh atau bagian tubuhnya sakit atau terganggu.

  • Waham kebesaran : keyakinan seseorang bahwa ia memiliki kekuatan yang istimewa.

  • Waham paranoid : kecurigaan seseorang yang berlebihan atau tidak rasional dan tidak mempercayai orang lain, ditandai dengan waham yang sistematis bahwa orang lain “ingin menangkap “ atau memata-matainya.

  • Siar pikir ; waham tentang pikiran yang disiarkan ke dunia luar.

  • Sisip pikir ; waham tentang pikiran yang ditempatkan ke dalam benak orang lain atau pengaruh luar.

  1. Rentang respon perilaku adaptif-maladaptif

Respon adaptif – respon maladaptif

  1. Tanda dan gejala

Pasien ini tidak memperlihatkan gangguan pikiran dan mood yang perpasif yang ditemukan pada kondisi psikotik lain, tidak ada afek datar atau afek tidak serasi, halusinasi yang menonjol, atau waham aneh yang nyata pasien memilki satu atau beberapa waham, sering berupa waham kejar, dan ketidaksetiaan dan dapat juga berbentuk waham kebesaran, somatik, atau eretomania yang :

  • Biasanya spesial (misal, melibatkan orang, kelompok, tempat, atau waktu tertentu, atau aktivitas tertentu).

  • Biasanya terorganisasi dengan baik(misal, “orang jahat ini” mengumpulkan alasan-alasan tentang sesuatu yang sedang dikerjakannya yang dapat dijelaskan secara rinci).

  • Biasanya waham kebesaran (misalnya, sekelompok yang berkuasa tertarik hanya kepadanya).

  • Wahamnya tidak cukup aneh untuk mengesankan skizofrenia.

Pasien-pasien ini (cenderung berusia 40-an) mungkin tidak dapat dikenali sampai sistem waham mereka dikenali oleh keluarga dan teman-temannya. Ia cenderung mengalami isolasi sosial baik karena keinginan mereka sendirian atau akibat ketidakramahan mereka (misalnya, pasangan mengabaikan mereka). Apabila terdapat disfungsi pekerjaan dan sosial, biasanya hal ini merupakan respon langsung terhadap waham mereka.

Kondisi ini sering tampak membentuk kesinambungan klinis dengan kondisi seperti kepribadian paranoid, skizofrenia paranoid, penggambaran mengenai bats-batas setiap sindrom menunggu penelitian lebih lanjut. Singkirkan gangguan afektif, ide-ide paranoid dan cemburu sering terdapat pada depresi, paranoid sering terdapat pada orang tua dan pada orang yang menyalahgunakan zat stimulan, reaksi paranoid akut sering ditemui pada pasien dengan delirium ringan dan pasien yang harus berada di temapat tidur karena sakit.

  1. Penanganan

  • Psikofarmakologi

  • Pasien hiperaktif / agitasi anti psikotik low potensial

  • penarikan diri high potensial

  • ECT tipe katatonik

  • Psikoterapi

Perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, terapi supportif

  1. Asuhan Keperawatan

  1. Pengkajian

  • Aktivitas dan istirahat

Gangguan tidur, bangun lebih awal, insomnia, dan hiperaktivitas.

  • Higiene

Kebersihan personal kurang, terlihat kusut/ tidak terpelihara.

  • Integritas ego

Dapat timbul dengan ansietas berat, ketidakmampuan untuk rileks, kesulitan yang dibesar-besarkan, mudah agitasi.

Mengekspresikan persaaan tidak adekuat, perasaan tidak berharga, kurang diterima, dan kurang percaya pada orang lain. Menunjukkan kesulitan koping terhadap stres, menggunakan mekanisme koping yang tidak sesuai.

  • Neurosensori

Mengalami emosi dan prilaku kongruen dengan sistem keyakinan/ketakutan bahwa diri ataupun orang terdekat berada dalam bahaya karena diracuni atau diinfeksi, mempunyai penyakit, merasa tertipu oleh pasangan individu, dicurangi oleh orang lain, dicintai atau mencintai dari jarak jauh.

  • Keamanan

Dapat menimbulkan prilaku berbahaya/menyerang

  • Interaksi sosial

Kerusakan bermakna dalam fungsi sosial/perkawinan

Umumnya bermasalah dengan hukum.

POHON MASALAH

Efek                                          Gangguan Komunikasi verbal

Core Problem                            Perubahan proses pikir / waham

Etiologi                                    Gangguan konsep diri

Masalah utama : pasien mengalami waham

Penyebab : gangguan konsep diri

Efek : gangguan komunikasi verbal

  1. Intervensi

Diagnosa keperawatan : Perubahan proses pikir / waham

Tujuan Umum : Klien dapat mengontrol wahamnya.

Perencanaan

Intervensi

Tujuan Khusus

Kriteria Evaluasi

Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Klien mampu berkomunikasi dengan baik dengan perawat.

    1. Bina hubungan saling percaya dengan klien : beri salam terapeutik (panggil nama klien), sebutkan nama perawat, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (topik yang akan dibicarakan, waktu dan tempat).

    2. Jangan membantah dan mendukung waham klien :

  • Katakan perawat menerima keyakinan klien : “saya menerima keyakinan anda” disertai ekspresi menerima.

  • Katakan perawat tidak mendukung : “sukar bagi saya untuk mempercayainya” disertai ekspresi ragu tapi empati.

  • Tidak membicarakan isi waham klien.

    1. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindung :

  • Anda berada di tempat aman, kami akan menemani anda.

  • Gunakan keterbukaan dan kejujuran.

  • Jangan tinggalkan klien sendirian.

    1. Observasi apakah waham klien menganggu aktifitas sehari-hari dan perawatan diri.

Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki.

Klien mampu menyebutkan keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialaminya.

    1. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.

    2. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis (hati-hati terlibat diskusi tentang waham).

    3. Tanyakan apa yang biasa dilakukan (kaitkan dengan aktifitas sehari-hari dan perawatan diri) kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini.

    4. Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perawat perlu memperlihatkan bahwa klien penting.

Klien dapat mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi

klien mampu menyebutkan semua kebutuhannya sehari-hari.

    1. Observasi kebutuhan klien sehari-hari

    2. Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa takut, ansietas, marah).

    3. Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.

    4. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (aktivitas dapat dipilih bersama klien, jika mungkin buat jadual).

    5. Atur situasi agar klien mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.

Klien dapat berhubungan dengan realistis

Klien dapat menyebutkan cita – cita dan harapan yang sesuai dengan kemampuannya
    1. Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (realitas diri, realitas orang lain, realitas tempat dan realitas waktu).

    2. Sertakan klien dalam terapi aktifitas kelompok : orientasi realitas.

    3. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.

Klien dapat dukungan keluarga

Keluarga dapat menyebutkan cara – cara merawat klien waham.

    1. Diskusikan dengan keluarga tentang :

  • Gejala waham

  • Cara merawatnya

  • Lingkungan keluarga

  • Follow-up dan obat

    1. Anjurkan keluarga melaksanakan 5.1. dengan bantuan perawat.

Klien dapat menggunakan obat dengan benar.

Klien dapat minum obat sesuai dengan resep dokter dan tepat waktu.

    1. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping, akibat penghentian.

    2. Diskusikan perasaan klien setelah makan obat.

    3. Berikan obat dengan prinsip 5 (lima) benar.

  1. TAK

Tujuan :

  1. Klien dapat memahami pentingnya melakukan kegiatan untuk mencegah munculnya waham.

  2. Klien dapat menyusun jadwal kegiatan untuk mencegah terjadinya waham

Setting :

  1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran

  2. Ruangan nyaman dan tenang.

Metode :

  1. Diskusi dan tanya jawab.

  2. Bermain peran/ stimulus dan latihan.

  1. SP (Strategi Pendahuluan)

  1. Tempatkan waham dalam kerangka waktu dan identifikasi pemicu

  • Identifikasi semua komponen waham dengan menempatkannya dalam waktu dan urutan

  • Identifikasi pemicu yang mungkin berhubungan dengan stres dan ansietas

  • Apabila waham terkait ansietas ajarkan keterampilan mengatasi ansietas

  • Buat suatu program penatalaksanaan gejala

  1. Kaji instensitas, frekuensi dan lama waham

  • Bantu pasien untuk menghilangkan waham yang berlalu dengan cepat dalam keranmgka waktu yang singkat.

  • Pertimbangkan untuk menghindari waham yang menetap atau yang telah dialami dalam waktu lama sementara waktu guna mencegah terhambatnya hubungan perawat-klien.

  • Dengarkan secara seksama sampai tidak diperlukan lagi pembicaraan mengenai waham.

  1. Identifikasi komponen emosional sosial waham

  • Berespon terhadap perasaan pasien yang mendasar, bukan pada sifat waham yang tidak logis.

  • Dorong pembicaraan mengenai ketakutan, kecemasan, dan kemarahan klien pasien tanpa menilai waham yang diceritakan pasien benar atau salah.

  1. Amati adanya bukti pemikiran konkret

  • Tentukan apakah pasien benar-benar menagjak anda berbicara atau tidak.

  • Tentukan apakah pasien dan anda menggunakan bahasa yang sama.

  1. Amati pembicaraan yang menunjukkan gejala gangguan pemikiran

  • Tentukan apakah klien menunjukkan gangguan pemikiran( mis, bicara berputar-putar, menyimpang, mudah mengubah topik pembicaraan, tidak dapat merespon terhadap upaya anda untuk mengarahkan kembali pembicaraan).

  • Sadari bahwa ini bukan saat yang tepat untuk menunjukkan ketidaksesuaian antara kenyataan dan waham.

  1. Amati kemampuan klien untuk menggunakan pertimbangan sebab akibat secara akurat

  • Tentukan apakah klien dapat membuat prediksi yang logis(indukltif atau deduktif ) berdasarkan pengalaman masa lalu.

  • Tentukan apakah klien dapat mengonseptualisasi waktu.

  • Tentukan apakah klien dapat mengakses dan menggunakan memori yang bermakna saat ini dan jangka panjang.

  1. Bedakan antara gambaran pengalaman dan kenyataan dari situasi tertentu

  • Identifikasi keyakinan yang salah mengenai situasi yang nyata.

  • Tingkatkan kemampuan pasien untuk menguji realitas.

  • Tentukan apakah pasien berhalusinasi, karena ini akan memperkuat waham

  1. Secara cermat, tanyakan pasien tentang kenyataan yang terjadi dan arti dari kenyataan tersebut.

  • Bicarakan mengenai waham untuk mencoba membantu pasien melihat bahwa waham itu tidak benar.

  • Harap diingat, jika langkah ini dilakukan sebelum langkah sebelumnya selesai, hal ini dapat memperkuat waham.

  1. Diskusikan tentang waham dan konsekuensinya

  • Jika intensitas waham berkurang, diskusikan waham ketika pasien siap untuk mendiskusikannya.

  • Diskusikan konsekuensi waham.

  • Berikan kesempatan kepada klien untuk mengambil tanggungjawab dalam prilaku, aktivitas sehari-har, dan pengambilan keputusan.

  • Dorong tanggungjawab personal pasien dan partisipasinya dalam kesehatan dan penyembuhan.

  1. Tingkatkan distraksi sebagai cara untuk menghentikan fokus pasien pada waham

    • Tingkatkan aktivitas yang membutuhkan perhatian pada keterampilan fisik dan dapat membantu klien menggunakan waktu secara konstruktif.

    • Kenali dan dorong aspek yang positik dari kepribadian klien.

About these ads

14 Tanggapan

  1. saya belum faham banget ttg waham somatik,,,,
    klo bisa minta rincian sedetail-detailnya donk pa sech tuh waham somatik
    plus askep bwt waham somatik sendiri kaya gimana yah??!!
    thx be 4

  2. asslm… mba’ mas askep waham nya dilengkapi dong, aku lagi butuh materi & askep waham curiga nya, ada yg bisa bantu hendra ga yah, brother, help me, aku lagi nyusun KTI…
    konsul dah berkali2 tapi tetep aj salah mulu, coz referensi tentang waham jarang, skarang aq lagi nyari rentang respon + penjelasannya, hemm mf ya jd curhat….

  3. o yah kalo ada brother tolong kirim ke email q yh jpunk_muse@yahoo.com, thank’s for all…..

  4. terimakasih atas wahamnya

    boleh di kopi ya buat koleksi materi keperawatan jiwa

    pusvahikari@yahoo.com

  5. ass,
    aku Mahasiswa Keperawatan di Cianjur, aku baru kuliah di TINGKAT 2 atau semester 3, di mata kuliah Kep.Jiwa aku kebagian ttg WAHAM, aku pengen tahu lebih jelas ttg WAHAM sisip pikir. !!! thanks ya, kalo bisa kirim.in ke email aku.

    wassalam

  6. aku mahasiswi FK Unila semester 3
    blom jelas nih ttg Waham ,bisa kasi yg detail ny ga?
    kirim ke email arumcantikk@yahoo.com
    tengkyuuuu

  7. aku Mahsiswa Keperawatan IIK BW Kediri semester 5,,,aku blm paham ttg Waham,,,,
    boleh yach aku ngopi bahannya,,kebetulan aku lgi ada tgs,,,
    makasi

  8. mau tanya nie….
    aku punya temen perempuan dimana dia punya kebiasaan berbohong,apapun yang keluar dari mulutnya 90% adalah kebohongan yang menurut saya hal itu merupakan obsesi dia saja yang hanya ingin menunjukkan bahwa dia lebih dari teman2nya yang lain.padahal apa yg diceritakannya tidak sesuai dengan realitasnya,nah…apakah hal tersebut bisa disebut waham,mengingat hal tersebut sudah menjadi suatu kebiasaan dalam kesehariannya?
    thank u

  9. permisi, minta izin share ya… thx

  10. mbk kalo ad seseorang yg ngira dy skt tp tnyata skt ny t g lbh parah dr pkrn ngtf ny… ap t jg bs d sebut waham sakit???? trz gmana cr ngatasinnya coz wkt t dah d bwa k psikiater, tp br 1 kali konsul dah g mau. dy t cpet bgt bosen m p’obatan yg diksh siapa pun. kmrn penyakitnya udh ktmu, tp ttp j pgn b’ obat kmana2 lg coz dy b’pkr sktny krn dibuat org gt d…. tlg bgt mbk y….

  11. Saya mengkopi tulisannya, mohon dizinkan. :)

  12. izin copas ya

  13. saya blum faham tentang perjalanannya halusinasi kok bs menjadi waham?
    mohon di jelaskan lebih lanjut…………
    mksih

  14. sy mahasiswa keperawatan UNG semster 6
    sy kurng paham dgn waham, ada penjelasan yg lebih rinci lagi tentang waham??
    tolng yah di share ke emailku prilyh@yahoo.co.id
    makasih…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: